Oleh : Syaikh Shalih Al-Utsaimin rahimahullah
Pertanyaan :
Seorang penanya bertanya : Bila seseorang melakukan suatu dosa pada masa awal hidupnya, dan Allah Azza wa Jalla telah menutupi aib dosa tersebut, dimana tidak ada yang tahu selain Dia Subhanahu wa Ta’ala, dan ia telah bertaubat kepada-Nya, lalu apakah boleh baginya untuk menceritakan perihal dosa tersebut kepada orang-orang?
Ditambah lagi, ada sebagian orang yang berkata kepada saya : Atas nama Allah Azza wa Jalla, beritahukanlah kepadaku dosa apakah yang pernah engkau perbuat di awal hidupmu? Dan apakah benar bahwa orang yang memberitahukan tentang dosanya, maka Allah Azza wa Jalla akan mengampuni dosanya?
Jawaban :
Sebenarnya ada tiga pertanyaan dalam pertanyaan di atas.
Pertanyaan Pertama : Orang yang berbuat dosa, dan Allah Azza wa Jalla telah menutupi aib dosanya, apakah boleh baginya untuk memberitahukannya kepada orang lain?
Jawabannya, adalah tidak boleh. Orang yang berbuat dosa dan telah bertaubat darinya, tidak boleh baginya untuk meceritakannya kepada orang lain. Karena ini termasuk perbuatan menyingkap aib yang telah Allah Azza wa Jalla tutupi dan ini bertentangan dengan al-afiyah yaitu diharapkan baginya mendapatkan ampunan dan keselamatan dari neraka. Sebagaimana yang Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sabdakan :
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
Setiap umatku (diharapkan) akan mendapatkan keselamatan (dan ampunan), kecuali orang-orang yang terang-terangan. Dan termasuk bentuk terang-terangan ketika seseorang melakukan sesuatu (dosa) pada malam hari, lalu masuk waktu pagi sedangkan Allah Azza wa Jalla telah menutupi aib dosanya, namun ia justru mengatakan : wahai fulan, aku telah melakukan (dosa) ini dan itu pada malam tadi. Sungguh, ia telah melalui malamnya dalam keadaan Allah Azza wa Jalla menutupi aibnya, namun ia masuk waktu pagi dengan menyingkap apa yang telah Allah Azza wa Jalla tutupi. (Hadits Riwayat Bukhari-Muslim)
Namun bila dosa tersebut adalah dosa yang ada hukum had dan siksanya, dan seseorang ingin memberitahukannya kepada pihak waliyyul amr (pihak penguasa kaum Muslimin) agar Allah Azza wa Jalla membersihkan dosa dan siksa tersebut, maka ini tidaklah mengapa. Meskipun yang lebih utama baginya adalah agar ia menutupi hal tersebut, di mana Allah Azza wa Jalla telah menutupi aibnya.
Adapun kalau dosa tersebut bukan jenis dosa yang punya hukum had, maka tidak boleh bagi seseorang untuk menceritakannya kepada orang lain. Sebab hal itu mengandung unsur kezaliman terhadap diri sendiri, serta membuat orang lain menjadi menggampangkan (meremehkan) hal tersebut.
Adapun Pertanyaan Kedua, yaitu orang lain yang meminta kepadanya untuk menceritakan dosa apa yang telah ia perbuat, dengan mengatakan : atas nama Allah Azza wa Jalla, beritahukanlah kepadaku tentang apa yang telah engkau perbuat. Maka hal ini tidaklah diperbolehkan. Tidak boleh bagi seseorang untuk mengusik seseorang dengan permintaan atau pertanyaan seperti ini, misalnya dengan mengatakan ucapan seperti di atas. Ini bertentangan dengan keindahan dan keelokan nilai Islam di mana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
Di antara tanda bagusnya Islam seseorang adalah kala ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna baginya. (Hadits Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Ketika itu, tidak menjadi keharusan bagi Saudara untuk menjawabnya, meskipun ia bertanya dan meminta kepada Saudara atas nama Allah Azza wa Jalla . Karena disitu ada kerusakan dan kerugian yang menimpa saudara. Juga ada unsur kezaliman yang ia lakukan terhadap saudara. Allah Azza wa Jalla tidak mencintai orang-orang yang zalim, dan tidak mencintai kezaliman. Dan tidak boleh baginya untuk bertanya dengan pertanyaan seperti ini.
Adapun Pertanyaan Ketiga : Bahwa kalau orang memberitahukan kepada orang lain tentang maksiat yang pernah ia perbuat, niscaya Allah Azza wa Jalla akan mengampuninya pada hari kiamat, maka ini sama sekali tidak benar. Seperti yang telah kami katakan, tidak boleh bagi seseorang untuk memberitahukan orang lain tentang perbuatan maksiat yang pernah ia kerjakan. Yang Allah Azza wa Jalla ampuni adalah bila seseorang bertaubat dan kembali kepada-Nya dari dosa-dosanya, dan ia menyesal, serta bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di kemudian hari. Ditambah lagi bahwa taubat tersebut dilakukan pada waktu di mana taubat masih bisa diterima. Artinya sebelum seseorang menyaksikan kematiannya, dan sebelum matahari terbit dari arah bbarat
___
Fatawa Nur ala ad-Darb oleh Syaikh Muhammad Bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah 12/ 643
Wallahu'alam

0 Komentar