Subscribe Us

header ads

Jangan Ambil Ilmu Dari Da'i Yang Merokok Meskipun Ia Ahlussunnah


Oleh : Buya  Abu Sa'id Neno Triyono

Apakah orang yang merokok terus-menerus dan terang-terangan dihadapan orang serta dia tahu bahwa itu hukumnya haram termasuk orang fasik? 

Disebutkan dalam fatwa Fatawa Syabakah Islamiyah no. 401506

"Merokok adalah salah satu bentuk maksiat, dan doa ini meskipun termasuk dalam dosa kecil, tetapi berketerusan melakukannya menjadikannya termasuk dalam dosa besar."
 
"Perokok yang mengetahui haramnya merokok, namun tetap melakukannya, akan disebut sebagai orang yang fasik."

Berkata Syaikh Utsaimin rahimahullah, 

Bahwasanya termasuk perbuatan fasik adalah merokok, mencukur jenggot, melakukan ghibah, lalu belum bertaubat. (Lihat Fathu Dzi Al-Jalali wa Al Ikram, 4: 472).

Dan apakah menerangkan kefasikan orang fasik, seperti orang yang merokok terus menerus dan ditampakkan dihadapan orang, itu mengumbar aib atau ghibah? Perhatikan jawaban ulama dibawah ini. 

Berkata Al-Hasan rahimahullah :

ليـس لصاحب بدعـة غيبـة، ولا لفاسق يعلن فسقـه غيبـة (شرح أصول السنة للألكائي (1/158)

“Membicarakan ahli bid'ah bukanlah ghibah. Dan menjelaskan kefasikan orang fasik secara terang-terangan bukanlah ghibah.”. (Syarh Ushulus Sunnah, karya al-Lalikai: 1/158).

Bagaimana mengambil ilmu dari orang fasik, apakah diperbolehkan atau tidak?

Tidak boleh mengambil ilmu dari orang yang fasik. Siapa yang mengambil ilmu dari orang fasik, maka ia akan binasa. Maka seorang perokok tidak layak diambil ilmunya. 

Berkata Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu  :

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَخَذُوْا الْعِلْمَ عَنْ أَكَابِرِهِمْ , فَإِذَا أَخَذُوْهُ مِنْ أَصَاغِرِهِمْ وَ شِرَارِهِمْ هَلَكُوْا

Manusia selalu berada pada kebaikan selama mereka mengambil ilmu dari orang-orang besar (tua) mereka. Jika mereka mengambil ilmu dari orang-orang kecil (ahli bid’ah) dan orang-orang buruk (orang fasik) di antara mereka, maka mereka pasti binasa. (Jami’ Bayanil ‘Ilmi, hlm. 248. Dinukil dari Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa wal Bida, hlm. 687).

Al-'Allamah Rabi' bin Hadiy al-Madkhaliy hafidzahullah ditanya, 

السؤال: طالب علم اجتمع حوله الطلاب ويزعم أنّه من أهل الحديث ولكنّه يدخن؟

(Sebagian) penuntut ilmu belajar kepada orang yang diklaim sebagai ahli hadits, namun dia adalah seorang perokok (bagaimana ini)?

الجواب: يتركونه ويبحثون عن واحد يخشى الله ويراقبه ويعمل بالعلم الصحيح فإذا كان يشرب الدخان ويمكن عليه ملاحظات أخرى فابحث لك عن عالم تقيّ يصدق عليه قول الله تبارك وتعالى: (يا أيّها الذين آمنوا لم تقولون ما لا تفعلون) فهو لا يقول ما لا يفعل! بل يقول ويفعل ,وقال تعالى عن شعيب: (و ما أريد أن أخالفكم إلى ما أنهاكم عنه … ).

Syaikh menjawab, 

Tinggalkan dan cari orang yang takut kepada Allah dan merasa diawasi olehNya dengan mendekatkan diri melakukan amal shalih. Jika dia perokok dan memungkinkan untuk belajar kepada yang lain, maka carilah seorang alim yang bertakwa yang membenarkan Firman Allah Ta'ala : 

"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?." (Surah Ash-Shaff : 2).

Yaitu ia tidak mengatakan apa yang tidak dikerjakan, namun ia mengatakan apa yang dikerjakannya. 

Allah Ta'ala berfirman tentang ucapan Nabi Syu’aib alaihi salam : "Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang." (Surah Huud : 88).

Ana (Abu Sa'id) bertanya kepada Syaikhuna, DR. Sa'ad as-Sabr hafizhahullah -ahli ilmu tinggal di Riyadh, KSA- :

"Syaikhuna apakah boleh bagi kami mengambil ilmu dari dai sunnah yang membolehkan merokok?".

Jawaban Fadhilatus Syaikh :

لايوجد. طالب علم يبيح الدخان لاتاخذ منه شيئا

"Tidak ada penuntut ilmu yang memperbolehkan rokok, jangan ambil ilmu darinya sama sekali."

"Apakah hal ini mengeluarkannya dari keahlussunahannya?"

Syaikhuna hafizhahullah menjawab :

لاتخرجه من السنة ولاتاخذ منه علم

"Jangan engkau mengeluarkannya dari sunnah, namun jangan engkau mengambil ilmunya."

Wallahu'alam

Posting Komentar

0 Komentar