Subscribe Us

header ads

Jangan Menjadikan Dakwah Sebagai Industri


Oleh : Buya Firanda Andirja

Hati-hati, jangan sampai kita menjadikan dakwah sebagai lahan industri. Walaupun ada yang berpendapat hal itu boleh-boleh saja, pesan penulis: jangan jadikan dakwah sebagai bisnis. Jangan jadikan dakwah sebagai mata pencaharian utama yang penuh perhitungan duniawi.

Kita ini harusnya malu pada para rasul. Tidak ada satu pun dari mereka yang menjadikan dakwah sebagai ladang mencari keuntungan. Kalau ada yang memberi hadiah, silakan terima, kita syukuri. Tapi kalau dakwah sudah kita kelola seperti bisnis, ini yang berbahaya.

Sekarang muncul fenomena pengajian berbayar. Duduk di barisan depan dikenai tarif sampai dua setengah juta rupiah atau bahkan lebih. Duduk di depan, bisa makan bersama ustaznya. Ini seperti nonton konser: yang duduk paling depan bayar mahal, yang di belakang lebih murah.

Bayar 600 ribu, duduknya di belakang. Pemandangan remang-remang. Tapi kalau bayar dua setengah juta, bisa lihat ustaz dengan jelas, bisa makan bareng juga. Janganlah begitu.

Mungkin secara hukum ada yang bilang boleh. Tapi, sudahlah. Kita ini mengaku mengikuti sunah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, jangan sampai meniru-niru model seperti itu.

Penulis tidak sedang membahas halal-haram. Tapi mari kedepankan rasa malu. Ilmu yang kita miliki ini pun tidak seberapa. Masa harus dipatok mahal agar orang bisa mendengarnya?

Kalau ada yang memberi hadiah, itu lain soal. Tapi kalau dari awal sudah pasang tarif, sudah hitung-hitungan untung rugi, itu bukan lagi dakwah. Itu jadi bisnis.

Sampai ada juga yang membuat sistem pengajian berbayar pakai utang. Kalau tidak punya, boleh cicil dulu. Ini nyata terjadi. Subhanallah. Ingin mengaji kok disuruh bayar mahal. Padahal kita sering mengkritik ahli bidah, tapi kajian mereka gratis. Kenyataan ini harusnya membuat kita malu.

Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengatakan,

(( يَسِّرُوا ولا تُعَسِّرُوا، وبَشَّرُوا، ولا تُنَفَرُوا ))

"Mudahkanlah manusia, jangan kalian susahkan mereka. Berikanlah kabar gembira kepada manusia. Jangan kalian buat mereka lari." (Hadits Riwayat Al-Bukhari, No. 69, dan Muslim, No. 1734) 

Yakinlah, Allah pasti akan kirimkan orang-orang dermawan yang akan mendukung dakwah ini. Kita hanya perlu menjaga keikhlasan dan amanah dalam menyampaikan.

Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dulu didukung oleh orang-orang kaya dan berada seperti Khadijah, Abu Bakar, dan Utsman radhiyallahu anhuma. Mereka infakkan harta yang besar demi syiar dakwah. Mereka tidak menunggu diminta. Mereka hadir sebagai penopang perjuangan.

Kalau kita sekarang ingin mengadakan kajian di masjid besar, silakan. Bahkan kalau mau buat kajian di hotel agar ibu-ibu lebih nyaman, juga tidak masalah. Tapi caranya: ajak para dermawan untuk mendukung dakwah ini. Jangan bebani jemaah dengan biaya besar. Apalagi sampai harus berutang. Lebih parah lagi kalau kajiannya dibuat berjenjang. Duduk di depan mahal, sedangkan yang murah duduk di belakang remang-remang. Bayar mahal bisa makan bareng ustaz dan diskusi langsung, yang murah cukup lihat dari kejauhan. Lebih menakjubkan sebagian mereka ketika membuat "konser dakwah" tersebut sudah memasang tarif namun masih saja tetapi mencari sumbangan?! Ini jadi aneh. Terlebih lagi kalau ustaznya bukan ulama besar, dan ilmu yang disampaikan juga biasa saja. Apa pantas dikenakan biaya segitu?

Fenomena seperti ini makin hari makin marak. Sudahlah, jangan diteruskan. Kita harusnya malu. Dakwah itu tempatnya pengorbanan. Tapi nyatanya, kini dakwah banyak dijadikan lahan bisnis. Jangan sampai terlalu vulgar.

Kita sebenarnya sudah banyak mengambil keuntungan dunia dari jalur dakwah. Contohnya apa? Umrah. Kita ambil margin dari biaya perjalanan. Sama halnya dengan mendirikan sekolah. Ada biaya, ada keuntungan. Juga menjual buku agama kita ambil untung juga di situ.

Itu masih bisa diterima, karena jelas ada aspek duniawinya: ada jasa, ada barang, ada sistem yang berjalan.

Mari kita hentikan model-model seperti itu. Kembalikan dakwah ke tempat yang semestinya: tempatnya memberi, bukan menarik. Kita yang seharusnya berkorban, bukan jemaah.

Yang lebih parah dan lebih vulgar dari sekadar pengajian berbayar adalah ketika seorang ustaz mulai memasang tarif. Penulis tahu persis, karena mengalami langsung. Ada dua ustaz terkenal yang melakukannya.

Suatu hari, sebuah instansi pemerintah menghubungi asisten penulis. Mereka bertanya, "Ustaz Firanda biasanya minta berapa?" Asisten bertanya balik, "Loh, kenapa tanya begitu?" Jawab mereka, "Karena ustaz yang kami undang sebelumnya minta 15 juta." Ternyata bukan satu instansi saja. Di tempat lain pun sama. Ustaz tersebut memang memasang tarif.

Bahkan kalau tidak pakai tarif langsung, ada juga yang membuat kesepakatan dengan DKM, "Isi kotak infak dibagi: sekian persen buat saya, sisanya buat masjid." Ini mirip sistem bagi hasil bisnis. Bayangkan, urusan dakwah dihitung seperti itu. Allahul-musta'an.

Ada juga cerita lain, lebih menyedihkan. Penulis pernah diminta mengisi kajian di daerah terpencil. Panitianya cerita, "Ustaz, sebelumnya ada ustaz sunah yang ingin datang, tapi syaratnya macam-macam. Penulis tanya, "Apa saja syaratnya?" Dijawab, "Beliau harus naik pesawat Business Class bersama istri, menginap di hotel tertentu, bawa kru sekian orang, dan juga pasang tarif." Penulis langsung katakan, "Jangan undang ustaz seperti itu lagi!"

Penulis kemudian datang dan mengisi kajian di sana. Melihat langsung keadaan masyarakatnya. Banyak ustaz lain juga datang ke situ. Mereka datang pakai motor butut, ada yang mogok di jalan. Mereka miskin, tapi tetap semangat dakwah. Masak iya kita tega minta tarif dari orang-orang seperti itu?

Kalau dikasih, alhamdulillah. Tapi kalau kita minta, apalagi sampai pasang tarif, itu sudah kebangetan. Apalagi di daerah miskin. Harusnya kita malu.

Fenomena ini makin hari makin terasa. Sampai suatu saat, ada kejadian di sebuah daerah. Sebuah panitia kajian mengundang seorang Syekh. Teman penulis menanggung semua biayanya. Tapi tiba-tiba, salah satu panitia marah-marah, bilang, "Pokoknya saya tidak mau bayar tiket! Tim yang datang harus bayar sendiri!"

Teman penulis tersinggung, karena dia sudah berniat menanggung semua biaya. Akhirnya penulis telepon si panitia yang marah-marah tadi. Dia pun sadar kalau sikapnya salah, dia pun mengatakan, "Ustaz Firanda, tolong sampaikan maaf ke teman antum. Saya terbawa emosi. Soalnya kemarin ada ustaz ke sini bawa tim-enam atau tujuh orang-dan saya disuruh tanggung semua biaya. Saya stres. Uang dari mana saya bayar itu semua?"

Dia menyangka Syekh ini sama seperti ustaz sebelumnya.

Bayangkan, ustaz lokal datang ke daerah terpencil, tapi gayanya seperti selebriti. Bawa tim lengkap: kameramen, kru, dan lain-lain. Kalau mau ceramah ke Amerika, ke tempat orang kaya, mungkin masih masuk akal untuk pasang tarif dan minta berbagai fasilitas. Tapi ini ke kampung, ke tempat orang yang makan enak saja cuma Senin-Kamis, lalu mereka diminta menanggung semua biaya. Ilmunya pun biasa-biasa saja. Kalau sekelas ulama besar, masih wajar. Tapi ini... cuma bikin jamaah senang karena penyampaiannya enak, bukan karena dalamnya ilmu. Apakah pantas seorang seperti ini memasang tarif?!

Kalau dibiarkan, model begini akan jadi biasa. Dan itu berbahaya. Maka harus dicegah dan pencegahannya dimulai dari diri sendiri. Jangan sampai kita jadikan dakwah ini ladang bisnis.

Sekali lagi, ini bukan soal halal-haram. Karena kalau hanya membahas hukum halal-haram, memang ada perbedaan pendapat. Tapi mari kita ambil jalan yang lebih aman dan lebih mulia.

Kita semua sepakat bahwa apa yang dilakukan oleh para Nabi itulah yang terbaik, mereka tidak meminta imbalan atas dakwah mereka. Contoh-contoh dari para ulama kita yang sudah meninggal maupun yang masih hidup pun masih banyak. Rezeki itu dari Allah. Itulah keyakinan kita.

Penulis pernah membaca satu kisah dari kalangan salaf -yang terus terang, penulis sendiri belum mampu menirunya-. Kisah ini diceritakan oleh Muhammad al-Hajjaj,

كَانَ رَجُلٌ يَسْمَعُ مِنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ فَرَكِبَ بَحْرَ الصَّينِ فَقَدِمَ، فَأَهْدَى إِلَى حَمَّادٍ فَقَالَ لَهُ حَمَّادُ : اخْتَرْ، إِنْ شِئْتَ قَبِلْتُهَا وَلَمْ أُحَدِّثْكَ أَبَدًا، وَإِنْ شِئْتَ حَدَّثْتُكَ وَلَمْ أَقْبَلِ الْهَدِيَّةَ، فَقَالَ: لَا تَقْبَلِ الْهَدِيَّةَ وَحَدِّثْنِي، فَرَدَّ الْهَدِيَّةَ وَحَدَّثَهُ.

"Ada seorang lelaki yang biasa mendengar hadis dari Hammad bin Salamah. Suatu ketika, ia menempuh perjalanan laut menuju Cina, lalu kembali. Maka dia membawa hadiah untuk diberikan kepada Hammad.

Maka Hammad berkata kepadanya, "Silakan pilih, jika engkau mau, aku akan menerima hadiahmu, tapi aku tidak akan meriwayatkan hadis kepadamu selamanya. Namun jika engkau masih mau aku meriwayatkan hadis kepadamu, maka aku tidak akan menerima hadiahmu." Lelaki itu berkata, "Jangan terima hadiahnya, dan sampaikan hadis kepadaku." Maka Hammad menolak hadiah itu dan menyampaikan hadis kepadanya. (Al-Kifayah fi-'Ilm ar-Riwayah, Hlm. 153) 

Demikian juga apa yang diceritakan seorang perawi hadis bernama Said bin Amir. Dia mengatakan,

أَنَّ الْحَسَنَ، لَمَّا جَلَسَ فَحَدَّثَ أُهْدِيَ لَهُ فَرَدَّهُ، وَقَالَ: إِنَّ مَنْ جَلَسَ مِثْلَ هَذَا الْمَجْلِسَ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ خَلَاقُ، أَوْ قَالَ فَلَيْسَ لَهُ خَلَاق.

"Sesungguhnya al-Hasan al-Bashri, ketika beliau duduk untuk menyampaikan hadis, lalu ada yang memberinya hadiah, beliau menolaknya dan berkata,

'Sesungguhnya siapa pun yang duduk di majelis seperti ini (untuk menyampaikan ilmu), lalu menerima hadiah, maka tidak ada bagian (kebaikan) baginya di sisi Allah.' Atau beliau berkata, 'Maka tidak ada (sedikit pun) bagian baginya. (Al-Kifayah fi-'Ilm ar-Riwayah, Hlm. 153) 

Begitu juga seorang perawi bernama Sulaiman bin Harb yang mengatakan,

لَمْ يَبْقَ أَمْرُ مِنْ أَمْرِ السَّمَاءِ إِلَّا الْحَدِيثُ وَالْقَضَاءُ، وَقَدْ فَسَدَا جَمِيعًا، الْقُضَاةُ يَرْشُوْنَ حَتَّى يُوَلُّوا، وَالْمُحَدِّثُونَ يَأْخُذُونَ عَلَى حَدِيثِ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم الدَّرَاهِم.

"Tidak ada satu pun dari perkara langit yang tersisa (di atas muka bumi ini) kecuali hadis dan peradilan. Sedangkan keduanya telah rusak seluruhnya. Para hakim menyuap agar bisa diangkat (menjadi hakim), dan para perawi hadis mengambil dirham sebagai bayaran atas penyampaian hadis Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam." (Al-Kifayah fi-'Ilm ar-Riwayah, Hlm. 154) 

Penulis sendiri belum mampu seperti mereka. Tapi kita bisa belajar dari bagaimana seriusnya mereka menjaga keikhlasan. Mereka sangat takut jika dakwah mereka tercampur dengan urusan dunia.

Bahkan, ada cerita menarik dari sebagian salaf. Ketika hendak membeli barang, si penjual tahu bahwa pembelinya adalah seorang ulama. Lantas si penjual pun memberikan potongan harga. Ternyata sang ulama tersebut malah membatalkan pembeliannya dan berkata, "Saya tidak sedang menjual agama saya!"

Sekarang? Kadang justru kita sendiri yang bertanya, "Ada harga ustaz nggak?"

Poin yang ingin penulis sampaikan dalam hal ini, kalau kita mau adu dalil, adu keteladanan, salaf yang keras dalam menjaga diri pun banyak. Memang ada juga pendapat yang lebih ringan. Tapi kalau kita masih mampu memilih jalan yang lebih hati-hati, kenapa tidak? Bukankah lebih baik?

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, 

اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْــئَلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ

"Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Surah Yasin : 21)

"Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Surah Yasin : 21)

Begitu juga firman Subhanahu wa Ta'ala,

وَيَقَوْمِ لَا أَسْتَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ )

"Dan wahai kaumku! Aku tidak meminta harta kepada kamu (sebagai imbalan) atas seruanku. Imbalanku hanyalah dari Allah." (Surah Hud : 29)

Bukankah ini slogan dakwah sunah, yakni kita mengikuti jejak para rasul? Semua rasul berkata, "Aku tidak minta bayaran." Maka tidakkah kita cukup malu?

Dakwah itu mulia. Jangan sampai tercampur dengan hitung-hitungan dunia. Tapi kenyataannya, inilah yang sedang terjadi. Kita perlu renungkan, kita perlu benahi.

Di saat kita mengingatkan agar dakwah tidak dijadikan ladang bisnis, bukan berarti kita menutup mata terhadap kebutuhan para dai. Kita juga perlu memberi pengertian kepada jemaah: kalau mengundang ustaz, berikanlah sesuai kemampuan. Karena ustaz juga manusia. Waktunya tersita untuk belajar dan menyiapkan materi. la punya istri, punya anak, dan punya tanggungan. Maka kalau memang bisa memberi, berilah dengan baik. Berilah dengan cara yang menjaga kehormatannya di hadapan manusia. Tapi jangan juga sampai ustaznya sendiri memasang tarif. Di situlah poin utama rambu-rambu ini.

Renungan...

Ada satu kejadian yang membuat hati penulis terenyuh. Seorang ustaz mengisi kajian di tempat yang jauh. Setelah selesai, dia hanya diberi bingkisan berisi singkong. Tapi dia masih bertanya kepada penulis, "Ustaz, bolehkah saya ambil ini?" Subhanallah. Tidak pasang tarif dan tidak minta apa-apa. Tatkala diberi singkong pun masih ragu, saking ingin menjaga keikhlasan. Tidakkah kita malu?

Telah penulis sampaikan kisah sebelumnya, seorang pendakwah di kampung pedalaman yang mencari nafkah dengan menjual bubur, tapi Allah berkahi dengan sebab beliau ribuan orang masuk Islam. Kita seharusnya malu dengan kisah-kisah nyata seperti ini!!

Semoga Allah berikan kita taufik dan hidayah-Nya agar setiap dari kita bisa terus menjaga hati, menjaga keikhlasan, dan terus berjalan di jalan dakwah ini dengan bersih dari niat sampai langkah.

___

Ebook 'Rambu-Rambu Dakwah. Penulis Firanda Andirja, Lc

Wallahu'alam

Posting Komentar

0 Komentar