Subscribe Us

header ads

Jangan Menyamakan Air Sinkhole Dengan Air Zamzam

Semenjak kemunculan sinkhole di Jorong Tepi, Kenagarian Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, mendadak menjadi ramai, bahkan sebagian warga ada yang mempercayai khasiat dari air tersebut, bahkan mengqiyaskan dengan khasiat air zamzam. 

Majelis Ulama Nagari (MUNA) Situjuah Batua menegaskan air yang keluar dari fenomena sinkhole atau tanah amblas tidak memiliki khasiat dan tidak dapat menyembuhkan penyakit.

Pengurus MUNA Situjuah Batua, Ferdiwinaldo, mengatakan anggapan bahwa air sinkhole berkhasiat berawal dari munculnya keyakinan yang berkembang di kalangan pengunjung atau beberapa oknum saja, bukan berdasarkan fakta atau kajian ilmiah.

“Sejak awal kemunculan fenomena sinkhole, banyak masyarakat setempat maupun pengunjung dari luar daerah berdatangan ke lokasi. Beberapa mulai mengambil air yang keluar dari lubang sinkhole dan meminumnya. Awalnya hal itu tidak bermasalah bagi kami,” ujarnya kepada Sumbarkita, Jumat (9/1/2026).

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
إنها مباركة، وإنها طعام طعم 

“Sesungguhnya (air zamzam) itu diberkahi, makanan yang mengenyangkan.” (Hadits Riwayat Muslim) 

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : 

« خَيرُ ماءٍ على وَجهِ الأرضِ ماءُ زمزم فيهِ طَعامُ الطُّعمِ ، وشِفاءُ السُّقمِ »

"Sebaik-baik air yang ada di muka bumi adalah air zamzam, padanya mengandung makanan yang mengenyangkan dan obat bagi penyakit. (Shahih At-Targhib 1161) 

وشفاء سقم

“Obat untuk berbagai penyakit.” (Hadits Riwayat Abu Dawud) 

Ada sebuah pertanyaan dari Lajnah Daimmah, 

نأمل منكم التكرم بأن تبينوا لي التبرك الممنوع (البدعي) متى يكون شركًا أكبر، ومتى يكون شركًا أصغر. مع ذكر الأمثلة؟

"Mohon penjelasan tentang Tabarruk (Ngalap Berkah)  yang terlarang (bid'i) kapan itu menjadi syirik akbar dan kapan menjadi syirik ashghar,  disertai dengan contoh?"

Jawaban :

التبرك بالمخلوق قسمان:أحدهما: التبرك بالمخلوق من قبر أو شجر أو حجر أو إنسان، حي أو ميت، يعتقد فاعل ذلك حصول البركة من ذلك المخلوق المتبرك به، أو أنه يقربه إلى الله سبحانه، ويشفع له عنده، كفعل المشركين الأولين، فهذا يعتبر شركًا أكبر من جنس عمل المشركين مع أصنامهم وأوثانهم، وهو الذي ورد فيه حديث أبي واقد الليثي في تعليق المشركين أسلحتهم على الشجرة، واعتبر النبي - صلى الله عليه وسلم - ذلك شركًا أكبر من المعلقين، وشبه قول من طلب ذلك منه بقول بني إسرائيل لموسى:  اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ 

Bertabarruk (Ngalap Berkah) dari makhluk ada dua macam. 

Pertama, Bertabarruk dari makhluk, yaitu kuburan, pohon, batu atau manusia hidup maupun mati. Pelakunya meyakini bisa mendapatkan barakah dari makhluk yang diharap barakahnya itu. Atau meyakini bahwa itu mendekatkan kepada Allah dan memberikan syafa'at di sisi-Nya. Seperti perbuatan kaum musyrikin generasi pertama. 

Maka ini termasuk syirik akbar, termasuk jenis amalan kaum musyrikin terhadap berhala-berhala mereka. 

Tabarruk jenis inilah yang terdapat dalam hadits dari shahabat Abu Waqid al-Laitsi tentang kisah orang-orang musyrik menggantungkan senjata-senjatanya pada sebuah pohon. Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyatakan bahwa perbuatan tersebut adalah syirik akbar oleh orang yang menggantungkannya. Nabi — Shallallahu 'Alaihi wa sallam — juga menyamakan ucapan orang-orang yang meminta diizinkan untuk melakukan seperti itu dengan ucapan Bani Israil kepada Nabi Musa: "Buatkanlah untuk kami tuhan lain sebagaimana mereka punya tuhan-tuhan." (Surah al-A'raf : 138)

القسم الثاني: التبرك بالمخلوق اعتقادًا أن التبرك به قربة إلى الله يثيب عليها، لا لأنه يضر أو ينفع، كتبرك الجهال بكسوةالكعبة ، وبالتمسح بجدران الكعبة ، ومقام إبراهيم ، والحجرة النبوية ، وأعمدة المسجد الحرام والمسجد النبوي ؛ رجاء البركة من الله، فإن هذا التبرك يعتبر بدعة، ووسيلة إلى الشرك الأكبر إلا ما خصه الدليل، كالشرب من ماء زمزم والتبرك بعرق النبي - صلى الله عليه وسلم - وشعره وما مس جسده، وفضل وضوئه - صلوات الله وسلامه عليه -، فإن هذا لا بأس به لقيام الدليل عليه. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

Kedua, Bertabarruk (ngalap berkah) dari makhluk dengan keyakinan bahwa bertabarruk darinya merupakan bentuk taqarrub kepada Allah dan mendapat pahala. Bukan karena menyakini makhluk atau benda tersebut bisa mendatangkan bahaya atau memberikan manfaat. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang bodoh bertabarruk (ngalap berkah) dari Kiswah (kain penutup) Ka'bah, atau dengan cara mengusap-usap dinding Ka'bah, atau maqam Ibrahim, bilik Nabi,  atau tiang-tiang Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, dengan mengharap barakah dari Allah. 

Tabarruk jenis ini adalah bid'ah,  dan bisa mengantarkan kepada syirik akbar.

Kecuali yang dikhususkan oleh dalil. Seperti, minum air zam-zam, tabarruk dengan keringat dan rambut Nabi — Shallallahu 'Alaihi wa Sallam — serta apa yang tersentuh oleh jasad beliau. Juga dengan bekas/sisa wudhu beliau. Maka yang demikian tidak mengapa, karena terdapat dalil yang menunjukkan akan bolehnya." (Al-Lajnah ad-Da'imah li al-Buhuts al-'Ilmiah wa al-Iftaa' No. 18511 | Ketua: 'Abdul 'Aziz bin Abdillah bin Baz)

Wallahu'alam

Posting Komentar

0 Komentar