Terlalu banyak kreativitas dalam dunia dakwah, menjadikan seperti pisau bermata dua. Ada pro dan kontra. Ada yang suka dan tidak. Sebagian beranggapan terlalu berlebihan dan diada-adakan, sebagian lagi biar lebih variatif dan tidak monoton.
Hari ini mungkin kita sedang menyaksikan kreativitas dalam dunia dakwah yang mana sebagian orang menulis sebuah doa lalu ditempelkan disebuah media (baca : dinding). Hampir mirip seperti kebiasaan orang kafir barat yang menulis doa disebuah kertas lalu ditempelkan, atau minta jodoh disebuah gembok, atau koin yang dilemparkan kedalam kolam. Mereka berharap, harapan dan doa tersebut segera dikabulkan.
al-Allamah Ibn Baz rahimahullah ditanya :
وأما قول السائل: أولئك قالوا ما نعبدهم إلا ليقربونا، فاعترفوا بالعبادة ولكن هؤلاء المتأخرين ما يقولون: إنهم يعبدونهم، ولكن يقولون: إنهم يتبركون بهم؟
Mengenai ungkapan penanya: Mereka berkata, 'Kami tidak menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah.' Mereka mengakui adanya ibadah. Namun, orang-orang di (abad-abad) terakhir ini tidak menyebutnya sebagai ibadah, melainkan menyebutnya dengan mencari berkah?
Beliau menjawab :
الاعتبار بالحقائق والمعنى لا باختلاف الألفاظ، فإذا قالوا: ما نعبدهم وإنما نتبرك بهم، لم ينفعهم ذلك ما داموا فعلوا فعل المشركين من قبلهم، وإن لم يسموا ذلك عبادة، بل سموه توسلًا أو تبركًا، فالتعلق بغير الله، ودعاء الأموات والأنبياء والصالحين والذبح لهم أو السجود لهم، أو الاستغاثة بهم، كل ذلك عبادة ولو سموها خدمة، أو سموها غير ذلك، لأن العبرة بالحقائق لا بالأسماء كما تقدم.
ومن هذا القبيل قول الجماعة الذين خرجوا مع النبي ﷺ إلى حنين لما رأوا المشركين يعلقون أسلحتهم على سدرة، قالوا: (يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط، فقال النبيﷺ: الله أكبر قلتم والذي نفسي بيده كما قالت بنو إسرائيل لموسى اجعل لنا إلها كما لهم آلهة. فجعل المقالة واحدة، مع أن هؤلاء قالوا: اجعل لنا ذات أنواط، فجعل قولهم مثل قول بني إسرائيل؛ لأن العبرة بالمعنى والحقائق، لا بالألفاظ
"Tolok ukurnya adalah hakikat dan makna (dari sebuah perkara), bukan dari beragam ungkapan.
Jika mereka berkata, 'Kami tidak menyembah mereka, hanyalah kami mencari berkah dari mereka.' Maka yang demikian tidak akan bermanfaat bagi mereka selama mereka melakukan hal yang sama dengan orang-orang musyrikin.
Walaupun mereka tak menyebutnya ibadah dan hanya sekedar menamainya dengan istilah mencari perantara atau berkah. Maka bergantung kepada selain Allah, berdoa kepada orang yang telah tiada, kepada para nabi, atau orang-orang saleh, menyembelih untuk mereka, sujud, atau meminta pertolongan kepada mereka, semuanya itu adalah bentuk peribadatan. Meskipun mereka menamainya dengan hanya sekedar mengabdi atau istilah lainnya.
Karena sungguh tolok ukurnya dengan hakikat sebenarnya dan bukan dengan sekedar penamaan sebagaimana telah berlalu (penjelasannya).
Termasuk dari hal yang demikian adalah pernyataan sekelompok orang yang ikut bersama Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menuju peperangan Hunain. Ketika mereka melihat kaum musyrikin menggantungkan senjata mereka di sebuah pohon, mereka berkata: 'Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami dzatu anwat (nama sebuah pohon, pen) seperti punya mereka. Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab, 'Allahu Akbar! -Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya-, kalian telah mengatakan sebagaimana ucapan Bani Israil kepada Musa: 'Buatkan untuk kami sesembahan, seperti sesembahan yang mereka punya.'
Maka di sini Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyamakan kedua ucapan tersebut, dalam kondisi mereka hanya mengucapkan: 'buatkan bagi kami dzatu anwat.' Namun Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tetap menjadikan ucapan mereka semisal perkataan Bani Israil. Karena (sekali lagi) yang menjadi tolok ukur adalah makna dan hakikat, bukan sekadar istilah-istilah (yang dipakai)." (Majmu’ Fatawa dan Artikel Syaikh Ibn Baz 3/139)
Wallahu'alam
0 Komentar