Persatuan Lintas Manhaj Dan Aqidah

Oleh : Buya Abdurrahman Thoyyib

Hari demi hari semakin banyak ujian bagi dakwah salafiyah dan salafiyyin, baik dari dalam maupun dari luar. Semoga Allah senantiasa menetapkan hati kita diatas manhaj salafi sejati hingga akhir hayat nanti. Dan semoga Allah menyelamatkan kita dari fitnah kelompok-kelompok sesat kapan dan dimanapun kita berada. Aamin.

Diantara ujian tersebut adalah merasuknya virus kelompok Ikhwanul Muslimin (kelompok harakah/pergerakan) ke dalam relung manhaj sebagian yang mengaku sebagai dai salafi. Mulai dari meninggalkan atau tidak mengutamakan dakwah kepada tauhid uluhiyah (atau aqidah salaf), lebih mementingkan kuantitas (menarik massa sebanyak-banyaknya) daripada kualitas, menyeru kepada fiqih waqi’/realita (fiqih koran), ingin masuk ke ranah politik/parlemen, mengkritik pemimpin kaum muslimin di hadapan umum (di internet atau pun medsos).

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullahu pernah ditanya : Apakah mungkin (kelompok-kelompok kaum muslimin) bersatu dengan adanya perbedaan manhaj dan aqidah?

Beliau menjawab : Tidak mungkin bersatu dengan adanya perbedaan manhaj dan aqidah. Sebaik-baik bukti dalam hal ini adalah keadaan bangsa arab sebelum diutusnya Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Dahulu mereka berpecah-belah dan saling bermusuhan. Ketika mereka masuk Islam dan dibawah bendera tauhid, aqidah mereka satu dan manhaj mereka satu maka bersatulah mereka dan berdiri negara mereka. Dan Allah mengingatkan mereka tentang hal ini lewat firman-Nya :

وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءً۬ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦۤ إِخۡوَٲنً۬ا

"Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara." (Surah Ali Imran : 103)

Dan Allah berfirman :

وَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِہِمۡ‌ۚ لَوۡ أَنفَقۡتَ مَا فِى ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعً۬ا مَّآ أَلَّفۡتَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡ وَلَـٰڪِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيۡنَہُمۡ‌ۚ إِنَّهُ ۥ عَزِيزٌ حَكِيمٌ۬

"Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana." (Surah Al-Anfal : 63)

Allah ta'ala tidak akan menyatukan hati orang-orang kafir dan yang murtad serta kelompok-kelompok sesat. Namun Allah hanya menyatukan hati orang-orang yang beriman yang bertauhid. Allah berfirman tentang orang-orang kafir dan munafik yang menyelisihi manhaj Islam dan aqidah Islam :

تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعً۬ا وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰ‌ۚ ذَٲلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٌ۬ لَّا يَعۡقِلُونَ 

"Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti." (Surah Al-Hasyr : 14)

وَلَا يَزَالُونَ مُخۡتَلِفِينَ (118) إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ‌ۚۚ

"Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu." (Surah Huud : 118-119)

(Yang diberi rahmat) adalah mereka yang berpegang teguh dengan aqidah serta manhaj yang benar. Dan mereka lah yang selamat dari perselisihan tersebut.

Orang-orang yang berusaha untuk menyatukan manusia diatas kerusakan aqidah dan manhaj yang berbeda, mereka itu melakukan hal yang mustahil. Karena menggabungkan antara dua hal yang bertentangan termasuk suatu yang mustahil. Tidaklah yang menyatukan hati serta barisan (kaum muslimin) melainkan kalimat tauhid لا إله إلا الله . Jika memang dipahami maknanya serta diamalkan konsekuensinya. Bukan sekedar dilafadzkan saja tapi diselisihi kandungan isinya. Maka tidak lah bermanfaat kalimat tauhid tersebut. (Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘an as-ilah al manahij al-jadidah no. 77 hal. 142-144)

Beliau juga mengatakan : Tidak ada kelompok yang selamat kecuali hanya satu saja yaitu yang berjalan diatas metode Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat beliau. Inilah manhaj yang wajib bersatu diatasnya. Dan manhaj-manhaj yang menyelisihinya itu memecah belah dan tidak menyatukan....kita tidak boleh bersatu kecuali diatas manhaj salafush shalih. (Idem no.78 hal.145-146)

Wallahu'alam

Posting Komentar

0 Komentar