1. Berbuka puasa dengan rokok
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya,
سائل يقول: ابتلاني الله بشرب الدخان ويطلب الدعاء له بالعصمة منه، ثم يقول: إن آخر ما يتناوله من طعام السحور سيجارة من الدخان، وما أن يسمع أذان المغرب ومدفع الإفطار حتى يتناول مثلها قبل الماء والطعام، فهل عليه من بأس في هذا وما حكم صيامه؟
Berkata penanya: Allah memberi ujian kepada saya dengan kecanduan merokok. Kemudian ia meminta agar didoakan perlindungan. Ia berkata, yang paling terakhir saya lakukan ketika sahur adalah merokok satu batang. Ketika mendengar adzan magrib tidaklah berbuka kecuali merokok dahulu sebelum minum dan makan. Apakah ada masalah dalam hal ini? Apa hukum puasanya?
أما بالنسبة لعمله الذي يعمله كونه يختم سحوره بشرب الدخان، ويبدأ إفطاره بشربه، فإن شرب الدخان محرم، سواء على هذه الحال، أو على حال أخرى، لما فيه من الضرر البدني، والمالي، والديني … ولا يجوز له أن يفعل هذا الفعل حتى لو شرب الدخان قبل أن يتسحر فهو حرام عليه، ولو شربه بعد أن يفطر على تمر وماء فإنه حرام عليه أيضاً، فعلى العاقل المؤمن أن يستعين الله تعالى في التخلص منه، وفي شهر رمضان فرصة لمن وفق لذلك، حيث في النهار يمسك عنه فإذا جاء الليل أمكنه أن يتسلى عنه بماأباح الله له من الطعام والشراب، وأن يبتعد عن الجلوس مع شاربيه، والسنة في الفطر أن يفطر الإنسان على رطب، فإن لم يجد فعلى تمر، فإن لم يجد فعلى ماء، فإن لم يجد ماء فليفطر على ما أباحه الله تعالى من أي طعام كان
Beliau menjawab :
Adapun keadaannya menutup sahur dengan merokok dan berbuka dengan rokok juga, maka perlu diketahui bahwa merokok hukumnya haram. Baik dalam keadaan ini ataupun keadaan lainnya. Karena bisa membahayakan badan, harta dan agama… tidak boleh ia melakukan perbuatan ini walaupun ia merokok sebelum sahur karena ini haram. Walaupun juga ia merokok setelah berbuka dengan kurma atau air, ini juga haram.
Bagi muslim yang berakal hendaknya ia memohon pertolongan kepada Allah agar bisa lepas dari kecanduan merokok. Bulan Ramadhan adalah kesempatan bagi mereka yang mendapat taufik. Ketika di siang hari ia menahan diri dari merokok (sebagai latihan) dan malam hari ia bisa mencari ganti lain (merokok) dengan makanan dan minuman yang mubah. Hendaknya ia menjauhi duduk dan berkumpul dengan orang yang merokok.
Dan sunnah dalam berbuka, hendaknya ia berbuka dengan kurma basah, jika tidak ada dengan kurma kering, jika tidak ada dengan air dan jika tidak ada dengan makanan apapun yang mubah. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il 20/81-82)
2. Berbuka puasa dengan jima' (HB)
Berbuka puasa dengan cara unik ini pernah dilakukan oleh Abdullah bin Umar atau dikenal Ibnu Umar. Imam Al-Dzahabi menuturkan perkataan Ibnu Umar dalam kitab Siyar A’lam Nubala’
لَقَدْ أُعْطِيتُ مِنَ الجِماعِ شَيْئًا ما أعْلَمُ أحَدًا أُعْطِيَهُ إلاَّ أنْ يَكُونَ رَسُولَ اللهِ -ﷺ
"Aku diberikan sedikit (kenikmatan) hubungan intim yang setahuku tidak ada orang lain yang diberikan kenikmatan itu kecuali Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam."
وقِيلَ: كانَ ابْنُ عُمَرَ يُفطِرُ أوَّلَ شَيْءٍ عَلى الوَطْءِ
"Konon Ibnu Umar mengawali berbuka dengan menjimak istrinya."
Imam at-Tabrani dalam kitab al-Mujamul Kabir dari Muhammad ibn Sirin juga mengemukakan :
ربما أفطر ابن عمر على الجماع
"Terkadang Ibnu Umar itu berbuka puasa dengan menjimak istrinya."
Dalam Fatwa Asy-Syabakah Al-Islamiyah disebutkan :
ولا مانع من أن يطأ الرجل الصائم زوجته بعد غروب الشمس قبل أن يأكل أو يشرب شيئاً، وصومه صحيح ولا يلزمه شيء لأنه بمجرد غروب الشمس فقد حل للصائم ما كان محرماً عليه من الأكل والشرب والوطء، فله أن يفعل من ذلك ما يشاء
"Tidak mengapa jika seorang laki-laki yang berpuasa menggauli istrinya setelah matahari terbenam sebelum ia makan atau pun minum sesuatu, puasanya sah dan tidak ada konsekuensi apapun darinya. Karena ketika matahari terbenam, sungguh telah halal bagi orang yang berpuasa apa yang diharamkan untuknya; makan, minum, dan hubungan intim. Dia boleh melakukan mana saja yang ia sukai.." (Fatwa no. 75995)
3. Berbuka puasa dengan bangkai manusia
Allah Ta’ala berfirman :
وَلاَ يَغْتِبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ
“Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”. (Surah Al Hujurat :12).
Yahya bin Abi Katsir rahimahullah dahulu pernah berkata,
يصوم الرجل عن الحلال الطيب ( يعني الطعام والشراب ) ويفطر على الحرام الخبيث : لحم أخيه ( يعني الغيبة والنميمة ). [ الحلية لأبي نعيم 3 / 69 ]
Seseorang (mampu) berpuasa dari yang halal lagi baik (yakni berpuasa dari makanan dan minuman) dan dia berbuka dengan yang haram lagi buruk dengan memakan daging saudaranya (yakni ghibah dan namimah (mengadu domba). (Al Hilyah Li Abi Nu'aim 3/69).
Wallahu a'lam
0 Komentar