Subscribe Us

header ads

Hukum Melafalkan Niat Puasa


1. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

Berkata Al Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah,

النيّة محلها القلب، ولا محل لها في اللّسان في جميع الأعمال؛ ولهذا كان من نطق بالنية عند إرادة الصلاة، أو الصوم، أو الحج، أو الوضوء، أو غير ذلك من الأعمال: كان مبتدعا قائلا في دين الله ما ليس منه؛

"Niat tempatnya adalah di hati, dan ia tidak memiliki tempat di lisan pada seluruh amalan; oleh kerana itu barang siapa yang melafalkan niat ketika hendak mengerjakan shalat atau puasa atau haji atau wudhu atau selain itu dari amalan-amalan: niscaya ia mubtadi' yang berbicara di dalam agama Allah yang bukan bagian darinya;

لأن النبي -ﷺ- كان يتوضأ، ويصلّي، ويتصدق، ويصوم، ويحج، ولم يكن ينطق بالنيّة؛ فلم يكن يقول: اللهم إني نويت أن أتوضأ، اللهم إني نويت أن أصلّي، اللهم إني نويت أن أتصدق، اللهم إني نويت أن أصوم، اللهم إني نويت أن أحج، لم يكن يقول هذا؛

Sebab Nabi shallallahu alahi wasallam berwudhu, mengerjakan shalat, bersedekah, berpuasa dan berhaji, dan beliau tidaklah melafalkan niat; maka Rasul tidak pernah mengucapkan:

Ya Allah sungguh aku berniat berwudhu, ya Allah sungguh aku berniat mengerjakan shalat, ya Allah sungguh aku berniat bersedekah, ya Allah sungguh aku berniat berpuasa, ya Allah sungguh aku berniat berhaji, Rasul tidak pernah mengucapkan ini;

وذلك لأن النيّة محلّها القلب، والله عز وجل يعلم ما في القلب، ولا يخفى عليه شيء؛ كما قال الله تعالى في الآية التي ساقها المؤلف: ﴿ قُلْ إِن تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ﴾ [آل عمران : ٢٩]

Hal itu disebabkan niat tempatnya adalah di hati, dan Allah mengetahui apa yang terdapat di dalam hati, dan tidaklah ada sesuatu yang tersembunyi atas-Nya sebagaimana Allah berfirman di dalam ayat yang disebutkan oleh penyusun:

قل إن تخفوا ما فى صدوركم أو تبدوه يعلمه الله

Katakanlah (hai Muhammad): jika kalian menyembunyikan apa yang terdapat di dalam dada-dada kalian atau kalian memperlihatkannya niscaya Allah mengetahuinya. (Surah Ali Imran : 29)." (Syarh Riyadhush Shalihin (1/13-14)

2. Asy-Syaikh al-‘Allaamah Ubaid bin ‘Abdillah al-Jabiry -hafizhahullahu ta’ala-        

Pertanyaan :

في نية صيام رمضان، هل لابد من التلفظ بالنية، أم يكفي استحضار القلب؟

Dalam berniat untuk puasa Ramadhan, apakah niat harus diucapkan atau cukup hanya dengan menghadirkan hati dalam berniat?

Jawaban :

النية في صيام رمضان وفي جميع العبادات يكفي فيها العزم، عزم القلب على فعل هذه العبادة، تقربًا إلى الله، والتلفظ بالنية بدعة، هذا في أصح القولين، أصح القولين أن التلفظ بالنية بدعة، بل لم نعلم وكذلك العلماء الأئِمة المحققون لم يذكروا أن الرسول – صلى الله عليه وسلم – تلفظ بالنية، وإنما أمر من أراد النسك أن يقول، يعني يتلفظ بإرادة النسك لبيك حجًا، لبيك عمرة، هكذا قال العلماء، هذه نية. لكن هذا مستثنى، أما الصلاة والصيام والصدقة والزكاة ما علم من سنة النبي – صلى الله عليه وسلم – أن المرء يتلفظ بها هذا أمر، وثمة أمر آخر ، ما من مسلم استقر وجوب رمضان في قلبه وطمع بهذا الوجوب في الثواب إلا والعزم مصاحب له، فتجده من الليل يهيئ نفسه لصيام نهار الغد، هكذا.

Berniat untuk Puasa Ramadhan dan pada seluruh ibadah cukup dengan keinginan kuat, tekad dalam hati untuk melakukan suatu ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah.

Adapun melafalkan niat adalah bid’ah. — Ini adalah pendapat yang paling benar dari dua pendapat. Pendapat yang benar dari dua pendapat tersebut bahwa melafalkan niat adalah bid’ah.

Bahkan kami tidak mengetahui, begitupun para ulama dari para imam yang peneliti, mereka tidak menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengucapkan niat.

Dan tidak lain Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memerintahkan bagi siapa yang ingin bermanasik (haji / umrah) untuk mengucapkan -yakni, melafalkan dengan niat bermanasik: “Aku datang memenuhi panggilan-Mu melakukan haji.” atau “Aku datang memenuhi panggilan-Mu melakukan umrah.” — Begitulah para ulama menyebutkan- bahwa ini adalah niat. Tapi ini adalah pengecualian.

Adapun shalat, puasa, sedekah dan zakat, tidak diketahui dalilnya dari sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bahwa seseorang mengucapkan niatnya. Ini satu poin.

Dan ada poin lainnya bahwa tidak seorang Muslim pun yang telah menetapkan wajibnya puasa Ramadhan di hatinya dan sangat mengharapkan dari kewajiban berpuasanya untuk mendapatkan pahala melainkan sebuah keinginan kuat (niat) telah menyertainya. Maka kalian dapati ia telah menyiapkan dirinya sejak malam hari untuk berpuasa di siang besoknya. Demikianlah.

3. Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullahu ta'ala

Berkata Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullahu ta'ala :

فصوم رمضان تجب له النية من الليل بأن ينوي قبل طلوع الفجر صيام ذلك اليوم، وقيام المسلم من النوم آخر الليل وتسحره يدل على وجود النية فليس المطلوب أن يتلفظ الإنسان ويقول ‏:‏ نويت الصوم، فهذا بدعة لا تجوز

" ... Maka dalam puasa ramadhan, wajib bagi hamba untuk berniat dari malam hari, ia niatkan sebelum terbitnya fajar untuk berpuasa di hari itu.

Dan bangunnya dia dari tidurnya di akhir malam, dan makan sahurnya dia, ini semua menunjukkan adanya niat (untuk berpuasa).

Maka bukanlah yang diharapkan (dari sebuah niat), seorang hamba melafalkan/mengeraskan bacaan niat dengan :  "nawaitu shauma ..." (Aku berniat puasa ...).

Karena ini adalah perbuatan bid'ah. Tidak boleh diamalkan." (Al Muntaqa min fatawa Al Fauzan (2/371)

Wallahu a'lam

Posting Komentar

0 Komentar