Subscribe Us

header ads

Hukum Onani Di Siang Hari Ramadhan


Terjadi perbedaan pendapat mengenai status orang yang berpuasa apakah batal atau tidak puasanya jika ia melakukan onani di siang hari ramadhan.
 
PENDAPAT MEMBATALKAN

1. Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah

Pertanyaan :

شاب استمنى في النهار وهو صائم فماذا يجب عليه؟

Ada seorang pemuda melakukan onani di siang hari dalam keadaan dia berpuasa. Apa yang wajib dia lakukan?

Jawaban :

الاستمناء في نهار رمضان يبطل الصوم إذا كان متعمدًا ذلك وخرج منه المني، وعليه أن يقضي إن كان الصوم فريضة، وعليه التوبة إلى الله سبحانه وتعالى؛ لأن الاستمناء لا يجوز لا في حال الصوم ولا في غيره، وهي التي يسميها الناس العادة السرية

“Onani di siang hari bulan Ramadhan itu membatalkan puasa, apabila dilakukan dengan sengaja, dan karenanya keluar mani. 

Dan dia wajib mengqadha (mengganti puasa) kalau puasanya adalah puasa wajib dan dia wajib bertaubat kepadanya Allah, karena onani itu tidak boleh dilakukan, baik ketika sedang berpuasa ataukah tidak. Dan itu yang dinamakan dengan kebiasaan rahasia.” (Majmu’Al-Fatawa 15/267) 

2. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan :

Apabila orang yang berpuasa melakukan onani, apakah itu membatalkan puasa? Apakah dia wajib membayar kaffarah?

Jawaban :

Apabila seorang berpuasa melakukan onani lalu keluar maninya maka dia telah batal puasanya, dan wajib untuk mengganti puasa di hari yang dia melakukan onani padanya, dan tidak ada kaffarah atasnya.

Karena kaffarah itu tidak wajib kecuali karena berjimak (disiang hari ramadhan) dan dia cukup bertaubat terhadap perbuatan yang telah dilakukan. (Fatawa Arkan Al-Islam 479) 

Beliau juga mengatakan pada Syarhul Mumti’”: 6/234-235), 

إذا طلب خروج المني بأي وسيلة ، سواء بيده ، أو بالتدلك على الأرض ، أو ما أشبه ذلك حتى أنزل ، فإنّ صومه يفسد بذلك ، وهذا ما عليه الأئمة الأربعة رحمهم الله مالك ، والشافعي ، وأبو حنيفة ، وأحمد .

“Apabila seseorang mencari cara untuk mengeluarkan maninya, baik dengan tangannya, atau dengan menggosoknya di lantai atau yang lainnya sampai keluar mani, maka puasanya batal. Inilah pendapat madzhab empat dari Imam Malik, Imam Syafi’I, Abu Hanifah dan Ahmad.

3. Asy-Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah

Pertanyaan :

ما حكم من عمل العادة السرية في نهار رمضان، وماذا عليه إذا كان مر على ذلك أكثر من رمضان وهو لم يقضه إلى الآن؟

Apa hukum seseorang yang melakukan onani di siang hari bulan Ramadhan? Dan apa yang harus dia lakukan jika ternyata dia sudah sering sekali melakukannya pada bulan Ramadhan dan sampai saat ini dia belum mengqodhonya?

Jawaban :

إذا كان يعمل العادة السرية، هذا حرام في رمضان وغيره

Jika dia melakukan onani, maka ini perbuatan haram baik di bulan Ramadhan ataupun selain Ramadhan.

إذا كان حصل معه الإنزال يبطل صيامه، يبطل صيامه، لأنه استخرج شهوته بالعادة السرية، فيبطل صيامه، ويأثم فعليه المبادرة في التوبة، وعليه القضاء

Jika onani tersebut sampai mengeluarkan mani, maka puasanya batal. Karena dia telah mengeluarkan syahwatnya dengan cara onani, maka ini membatalkan puasa sekaligus dia mendapatkan dosa. Maka wajib baginya untuk segera bertaubat dan juga dia harus mengqodho puasanya.

وعليه أن يطعم عن كل يوم مسكينا عن التأخير كما سبق.

Adapun qodho yang dia akhirkan, maka dia harus memberi makan pada setiap harinya satu orang miskin. (Sumber : klik disini)

TIDAK MEMBATALKAN

1. Berkata Ibnu Qudamah rahimahullah,  

" وَلَوْ اسْتَمْنَى بِيَدِهِ فَقَدْ فَعَلَ مُحَرَّمًا , وَلا يَفْسُدُ صَوْمُهُ بِهِ إلا أَنْ يُنْزِلَ , فَإِنْ أَنْزَلَ فَسَدَ صَوْمُهُ " انتهى .
وقال أيضا (4/361) : " إذَا قَبَّلَ ( أي زوجته ) فَأَمْنَى فَيُفْطِرَ بِغَيْرِ خِلافٍ نَعْلَمُهُ " انتهى .

Kalau seseorang beronani dengan tangannya, maka ia telah melakukan perbuatan haram. Dan tidak membatalkan puasanya sampai keluar mani. Apabila keluar mani maka puasanya batal”.  

Beliau juga mengatakan, pada jilid 4 / 361 :

“Apabila mencium istrinya, lalu keluar mani, maka batal puasanya. Sepanjang pengetahuan kami tidak ada perbedaan di antara para ulama dalam masalah ini”. (Al Mughni). 

2. Madzhab Adz Dzohiriyah berpendapat,

لا فطر بالاستمناء ولو أمنى ، لعدم الدليل من القرآن والسنة على أنه يفطر بذلك ، ولا يمكن أن نفسد عبادة عباد الله إلا بدليل من الله ورسوله صلّى الله عليه وسلّم .

“Masturbasi itu tidak membatalkan puasa, meskipun sampai keluar mani; karena tidak ada dalil dari al Qur’an dan Sunnah, dan tidak mungkin kami merusak ibadah hamba-hamba Allah kecuali dengan dalil dari Allah dan Rasul-Nya”. 

3. Berkata Ibnu Hazm rahimahullah :

ولا ينقض الصوم حجامة ولا احتلام، ولا استمناء، ولا مباشرة الرجل امرأته أو أمته المباحة له فيما دون الفرج، تعمد الإمناء أم لم يمن، أمذى أم لم يمذ ولا قبلة كذلك فيهما

Tidak membatalkan puasa berbekam, bermimpi basah, onani, menggauli istri atau budak wanita pada selain kemaluan, baik keluar mani ataupun tidak atau keluar madzi atau tidak, dan begitu juga (tidak membatalkan puasa) berciuman. (Al-Muhalla bil Atsar). 

4. Berkata Syaikh Al Albani rahimahullah ketika mengomentari perkataan Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah, 

قوله: "الاستمناء إخراج المني سواء أكان سببه تقبيل الرجل لزوجته أو ضمها إليه أو كان باليد فهذا يبطل الصوم ويوجب القضاء".

"Perkataannya (Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah) :

Onani itu mengeluarkan mani, sama saja apakah sebabnya dikarenakan seorang lelaki mencium istrinya atau memeluknya ataupun dengan tangan, maka ini membatalkan puasa dan wajib baginya untuk mengqadha puasa".

قلت: لا دليل على الإبطال بذلك وإلحاقه بالجماع غير ظاهر ولذلك قال الصنعاني "الأظهر أنه لا قضاء ولا كفارة إلا على من جامع وإلحاق غير المجامع به بعيد".

Aku berkata (Syaikh Al Albany) : 

Tidak ada dalil atas batalnya (puasa karena onani) dan menyamakan dengan jima' tidaklah tampak.

Maka dari itu, berkata Ash-Shan’aniy rahimahullah :

“Tapi pendapat yang paling benar adalah tidak perlu qadla’ dan tidak perlu kaffarat, kecuali bagi orang yang melakukan jima’. Dan menyamakan sebab lain dengan jima’ adalah tidak benar” (Subulus-Salaam oleh Ash-Shan’aniy, 2/226; Daarul-Hadiits, Cet. Thn. 1425) 

وإليه مال الشوكاني وهو مذهب ابن حزم فانظر "المحلى" 6 / 175 - 177 و 205

Dan olehnya Asy Syaukani condong kepada pendapat ini dan inilah pendapat madzhab Ibnu Hazm, lihat Al Muhalla 6/175-177 dan 205” Tamam Al Minnah 408.

YANG LEBIH SELAMAT

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ. (رواه مسلم).

Setiap anak Adam kebaikannya dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah ‘Azza wa jalla berfirman : kecuali puasa, maka sesungguhnya aku sendiri yang membalas dengan puasanya itu. Dia menahan syahwatnya, makanannya karena Aku.

Bagi yang puasa itu ada dua kegembiraan, gembira ketika berbuka dan gembira ketika berjumpa Rabb-Nya. Dan sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari pada minyak misik. (Hadits Riwayat Muslim).

Wallahu a'lam

Posting Komentar

0 Komentar