Diantara manusia yang hanya boleh diambil berkahnya adalah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Terdapat banyak dalil yang menunjukkan masalah ini, diantaranya :
1. Hadits Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu
حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا جُحَيْفَةَ يَقُولُ
خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْهَاجِرَةِ فَأُتِيَ بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَجَعَلَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ مِنْ فَضْلِ وَضُوئِهِ فَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ فَصَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ
وَقَالَ أَبُو مُوسَى دَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَدَحٍ فِيهِ مَاءٌ فَغَسَلَ يَدَيْهِ وَوَجْهَهُ فِيهِ وَمَجَّ فِيهِ ثُمَّ قَالَ لَهُمَا اشْرَبَا مِنْهُ وَأَفْرِغَا عَلَى وُجُوهِكُمَا وَنُحُورِكُمَا
خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْهَاجِرَةِ فَأُتِيَ بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَجَعَلَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ مِنْ فَضْلِ وَضُوئِهِ فَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ فَصَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ
وَقَالَ أَبُو مُوسَى دَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَدَحٍ فِيهِ مَاءٌ فَغَسَلَ يَدَيْهِ وَوَجْهَهُ فِيهِ وَمَجَّ فِيهِ ثُمَّ قَالَ لَهُمَا اشْرَبَا مِنْهُ وَأَفْرِغَا عَلَى وُجُوهِكُمَا وَنُحُورِكُمَا
Telah menceritakan kepada kami Adam berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu'bah berkata; Telah menceritakan kepada kami Al Hakam berkata; Aku pernah mendengar Abu Juhaifah berkata :
"Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah keluar mendatangi kami di waktu tengah hari yang panas. Beliau lalu diberi air wudhu hingga beliau pun berwudhu, orang-orang lalu mengambil sisa air wudhu beliau seraya mengusap-ngusapkannya. Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa sallam shalat zhuhur dua rakaat dan 'ashar dua rakaat sedang di depannya diletakkan tombak kecil."
Abu Muusa berkata, "Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminta bejana berisi air, beliau lalu membasuh kedua tangan dan mukanya di dalamnya, lalu beliau memasukkan air ke mulutnya kemudian membuangnya ke bejana seraya berkata kepada keduanya (Abu Muusa dan Bilal): "Minumlah darinya dan usapkanlah pada wajah dan leher kalian berdua."
(HR. Bukhari no. 187, 188)
2. Hadits Asma binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ مَوْلَى أَسْمَاءَ عَنْ أَسْمَاءَ قَالَ
أَخْرَجَتْ إِلَيَّ جُبَّةً طَيَالِسَةً عَلَيْهَا لَبِنَةُ شَبْرٍ مِنْ دِيبَاجٍ كِسْرَوَانِيٍّ وَفَرْجَاهَا مَكْفُوفَانِ بِهِ قَالَتْ هَذِهِ جُبَّةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَلْبَسُهَا كَانَتْ عِنْدَ عَائِشَةَ فَلَمَّا قُبِضَتْ عَائِشَةُ قَبَضْتُهَا إِلَيَّ فَنَحْنُ نَغْسِلُهَا لِلْمَرِيضِ مِنَّا يَسْتَشْفِي بِهَا
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'iid dari 'Abdul Malik berkata; Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bekas budaknya Asmaa', dari Asmaa' dia berkata :
"Asmaa' mengeluarkan untukku sebuah jubah dari kain yang tebal, di atasnya ada semacam kerudung dari kain yang menyerupai sutra kisrawani, kedua lubangnya memiliki jahitan di tepinya. Dia berkata, "Ini adalah jubah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau dulu memakainya ketika bersama 'Aisyah. Saat 'Aisyah meninggal, aku mengambilnya, kemudian kami mencucinya dan memakaikannya untuk orang yang sakit agar kita memohon kesembuhan dengannya." (Hadits Riwayat Ahmad no. 25705)
3. Dari Ibnu Sirin, beliau memiliki rambut Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan diperoleh dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. 'Ubaidah mengatakan :
لأن تكون عندي شعرة منه أحب إلي من الدنيا وما فيها
“Andai aku memiliki rambut beliau, itu lebih aku senangi daripada aku memiliki dunia dan seisinya.” (Hadits Riwayat Bukhari no. 170)
Demikianlah praktik sahabat dan tabi'in, mereka mengambil berkah dengan jasad Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik ketika beliau masih hidup maupun sudah meninggal, baik yang melekat di jasad beliau maupun yang terpisah. Itu hanya khusus untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Oleh karena itu Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Atsqalani Asy-Syafi’i rahimahullah berkata :
وقد تكاثرت الادله على طهارة فضلاته وعد الأئمة ذلك في خصائصه فلا يلتفت إلى ما وقع في كتب كثير من الشافعية مما يخالف ذلك
“Telah banyak dalil yang menunjukkan sucinya fudhalat (seperti rambut, keringat, ludah, ingus dsb) beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (sehingga boleh dilakukan tabarruk padanya). Para imam menganggap perkara tersebut sebagai kekhususan beliau. Maka tidak perlu ditoleh keterangan yang menyelisihi ini di dalam kitab-kitab kebanyakan Syafi’iyah…dst.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari, 1/272)
Mengambil berkah seperti yang disebutkan dalam hadits di atas, hanya dilakukan oleh para sahabat terhadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebaliknya, mereka tidak melakukan praktik tabarruk (ngalap berkah itu) kepada selain Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Diantara bukti nyata yang menunjukkan hal ini, tidak dijumpai riwayat yang menyebutkan bahwa para sahabat junior, mencari berkah dengan sahabat senior semacam Abu Bakr, atau dengan ahlul bait Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, semacam Hasan, Husein, atau sahabat pilihan lainnya. Padahal kita sepakat bahwa tingkat mereka di sisi Allah jauh lebih mulia dibanding para habib yang hidup di zaman ini, atau bahkan tidak layak dibandingkan.
Berikut keterangan para ulama yang menegaskan bahwa para sahabat tidak mengambil berkah dari orang shalih selain Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
Pertama, keterangan Imam Asy-Syatibi. Dalam kitab Al-I’tisham, beliau rahimahullah mengatakan :
وبالغ بعضهم في ذلك حتى شرب دم حجامته… إلى أشياء لهذا كثيرة. ..
“Sebagian diantara mereka ada yang berlebihan, sampai meminum darah bekam kyainya.., dst. Semacam ini banyak sekali.”
Selanjutnya Imam Asy-Syatibi rahimahullah menegaskan :
وهو أن الصحابة رضي الله عنهم بعد موته عليه السلام لم يقع من أحد منهم شيء من ذلك بالنسبة إلى من خلفه ، إذ لم يترك النبي صلى الله عليه وسلم بعده في الأمة أفضل من أبي بكر الصديق رضي الله عنه ، فهو كان خليفته ، ولم يفعل به شيء من ذلك ولا عمر رضي الله عنهما ، وهو كان في الأمة ، ثم كذلك عثمان ثم علي ثم سائر الصحابة الذين لا أحد أفضل منهم في الأمة .
“Bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum, setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak ada satupun di kalangan mereka yang melakukan tabarruk ini kepada orang yang menggantikan beliau. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah meninggalkan manusia di tengah umatnya yang lebih mulia daripada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, beliau menjadi pengganti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun tidak ada bentuk tabarruk apapun yang dilakukan terhadap Abu Bakar, tidak pula 'Umar radhiyallahu ‘anhuma. Padahal mereka ada di tengah-tengah umat. Kemudian tidak pula tabarruk ini dilakukan terhadap 'Utsman, 'Ali, maupun sahabat lainnya, yang mana tidak ada satupun manusia di kalangan umat ini yang lebih mulia dibanding beliau."
Imam Asy-Syatibi melanjutkan :
ثم لم يثبت لواحد منهم من طريق صحيح معروف أن متبركاً تبرك به على أحد تلك الوجوه أو نحوها ، بل اقتصروا فيهم على الاقتداء بالأفعال والأقوال والسير التي اتبعوا فيها النبي صلى الله عليه وسلم ، فهو إذاً إجماع منهم على ترك تلك الأشياء
“Kemudian juga tidak terdapat riwayat yang shahih yang ma’ruf bahwa ada orang yang mengambil berkah dengan salah satu bentuk di atas. Namun mereka hanya mencukupkan diri dengan meniru perbuatan para sahabat senior itu, memperhatikan petuahnya dan tingkah lakunya yang mereka ikuti dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kondisi ini menunjukkan ijma' (kesepakatan) di kalangan sahabat untuk meninggalkan semua bentuk tabarruk itu kepada selain Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (Al-I’tisham, 1/310)
Selanjutnya Imam Asy-Syatibi menjelaskan sebabnya, mengapa para sahabat tidak melakukan praktik mengambil berkah dari selain Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sepeninggal beliau. Imam Asy-Syatibi rahimahullah mengatakan :
وبقي النظر في وجه ترك ما تركوا منه، ويحتمل وجهين: أحدهما أن يعتقدوا في الاختصاص، وأن مرتبة النبوة يسع فيها ذلك كله للقطع بوجود ما التمسوا من البركة والخير؛ لأنه كان نورًا كله في ظاهره وباطنه؛ فمن التمس منه نورًا وجده على أي جهة التمسه، بخلاف غيره من الأمة -وإن حصل له من نور الاقتداء به والاهتداء بهديه ما شاء الله- لا يبلغ مبلغه على حال توازيه في مرتبته ولا تقاربه.
"Menyisakan satu pembahasan, tentang alasan mereka meninggalkan perbuatan tersebut. Ada dua kemungkinan,
Pertama, para sahabat meyakini bahwa itu hanya khusus untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahwa tingkatan kenabian menyebabkan bolehnya mengambil berkah, karena keberkahan dan kebaikan yang mereka cari pasti ada di jasad nabi. Mengingat semua bagian beliau adalah berkah, yang zhahir maupun yang batin. Siapa yang ingin mencari cahaya dari beliau, dia akan mendapatkannya dengan cara apapun. Berbeda dengan yang lainnya di kalangan umatnya – meskipun mereka mendapatkan cahaya meniti petunjuk beliau sesuai yang Allah kehendaki – namun tidak akan mencapai yang setingkat dengan beliau atau bahkan hanya mendekati tingkatan beliau.
الثاني: ألا يعتقدوا الاختصاص، ولكنهم تركوا ذلك من باب الذرائع خوفًا من أن يجعل ذلك سنة -كما تقدم ذكره في اتباع الآثار-، والنهي عن ذلك، أو لأن العامة لا تقتصر في ذلك على حد، بل تتجاوز فيه الحدود وتبالغ بجهلها في التماس البركة حتى يداخلها المتبرك به تعظيم يخرج به عن الحد، فربما اعتقد في المتبرك به ما ليس فيه.
Kedua, mereka tidak meyakini bahwa itu khusus untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Akan tetapi para sahabat meninggalkannya dalam rangka menutup celah karena khawatir itu akan dijadikan ajaran –sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya– dan itu dilarang. Atau karena masyarakat awam tidak membatasi praktik itu pada batasan tertentu, namun mereka akan melampaui batas dalam mencari berkah karena kebodohannya. Sehingga orang yang menjadi sasaran ngalap berkah diagungkan, yang melampaui batas. Bahkan terkadang muncul keyakinan tentang orang yang menjadi sasaran ngalap berkah berbagai tahayul yang sebenarnya tidak ada dalam dirinya."
Selanjutnya, Imam Asy-Syatibi menegaskan bahaya tabarruk yang salah :
وهذا التبرك هو أصل العبادة، ولأجله قطع عمر رضي الله عنه الشجرة التي بويع تحتها رسول الله صلى الله عليه وسلم ، بل هو كان أصل عبادة الأوثان في الأمم الخالية حسبما ذكره أهل السير
“Mencari berkah, merupakan awal mula munculnya ibadah. Karena alasan inilah, 'Umar bin Khaththaab menebang pohon yang menjadi tempat bai'at Ridwan di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahkan sikap mencari berkah merupakan sebab munculnya bentuk penyembahan terhadap berhala yang terjadi pada umat masa silam, sebagaimana yang dijelaskan oleh ahli sejarah.” (Al-I’tisham, 1/311 - 312)
Kedua, Keterangan Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam Al-Jadir bil Idza’ah.
وكذلك التبرك بالآثار؛ فإنما كان يفعله الصحابة رضي الله عنهم مع النبي صلى الله عليه وسلم ولم يكونوا يفعلونه مع بعضهم ببعض ولا يفعله التابعون مع الصحابة، مع علو قدرهم. فدل على أن هذا لا يفعل إلا مع النبي صلى الله عليه وسلم مثل: التبرك بوضوئه وفضلاته وشعره وشرب فضل شرابه وطعامه.
"Demikian pula bertabarruk dengan peninggalan orang shalih. Sesungguhnya para sahabat hanya melakukan tabarruk dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sementara mereka tidak melakukan hal itu antara satu sahabat dengan sahabat lainnya. Tidak pula dilakukan oleh tabi'in dengan para sahabat. Padahal mereka sangat tinggi kedudukannya. Ini menunjukkan bahwa ngalap berkah hanya dilakukan terhadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seperti ngalap berkah dengan air wudhu beliau, atau yang keluar dari tubuh beliau (misal: ludah), atau rambut beliau, atau sisa minuman dan makanan beliau."
Kemudian beliau menegaskan bahaya ngalap berkah yang dilakukan masyarakat awam :
وفي الجملة فهذه الأشياء فتنة للمعظَّم وللمعظِّم؛ لما يخشى عليه من الغلو المدخل في البدعة، وربما يترقى إلى نوع من الشرك، كل هذا إنما جاء من التشبه بأهل الكتاب.
"Ringkasnya, tindakan mengambil berkah semacam ini merupakan fitnah yang besar, bagi orang yang diagungkan maupun yang mengagungkan. Mengingat dikhawatirkan muncul tindakan berlebihan yang menjadi pintu bid’ah. Dan terkadang naik tingkatan sampai pada bentuk kesyirikan. Semua ini termasuk meniru kebiasaan ahli kitab." (Al-Jadir bil Idza’ah, hal. 24)
Syaikh Dr. 'Abdullah 'Abdul 'Aziz Al-Jibrin menjelaskan :
فإن من تبرك بذات أو آثار أحد من الصالحين غير النبي -صلى الله عليه وسلم- قد عصى الله تعالى، و عصى نبيه محمدا -صلى الله عليه وسلم- ، و أعطى هذه الخاصية التي خص بها ربنا جل و علا نبيه -صلى الله عليه وسلم- لغيره من البشر، و سواهم بالنبي صلى الله عليه وسلم في ذلك، فسوى عموم الأولياء و الصالحين بخير البشر و سيد ولد آدم صلى الله عليه وسلم، و هذا فيه هضم لحقه صلى الله عليه وسلم، و دليل على نقص محبته عليه الصلاة و السلام في قلب هذا المتبرك.
"Maka sesungguhnya setiap orang yang bertabarruk dengan dzat orang shalih, atau bekas peninggalan orang-orang shalih selain pada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan juga bermaksiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena dia telah menjadikan tabarruk yang sejatinya sifat khusus yang diperuntukkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu dia tujukan kepada manusia biasa. Dan hal ini adalah bentuk penyetaraan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan manusia biasa lainnya, sehingga disini dia telah menyetarakan orang-orang shalih secara umum dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini adalah hekakat perusakan hak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan bukti konkrit kurangnya rasa cinta dia di hati kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (At-Tahdziib Syarh Tashiil Al-'Aqiidah Al-Islamiyah, hal. 167)
Seorang 'Alim Ulama India Syaikh Hasan Shadiq Khan di dalam kitabnya Ad-Diin Al-Khaalish (2/250) berkata :
ولا يجوز أن يقاس أحد من الأمة على رسول الله صلى الله عليه وسلم، و من ذاك الذي يبلغ شأوه؟ قد كان له صلى الله عليه وسلم في حال حياته خصائص كثيرة لا يصلح أن يشاركه فيها غيره
"Dan tidak boleh bagi kita menqiyaskan seseorang dari kalangan umat ini dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena siapa yang bisa sampai derajatnya beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam!? Sungguh beliau Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di kala hidupnya, memiliki banyak sekali keistimewaan yang tidak bisa dimiliki selain beliau -Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam-.”
Berdasarkan keterangan di atas, dapat kita simpulkan, mencari berkah dengan orang shalih selain Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak diperbolehkan, karena beberapa alasan :
1. Tidak ada manusia yang setingkat dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sehebat apapun dirinya. Sehingga orang shalih selain nabi, tidak bisa dianalogikan dengan nabi dalam kasus ini.
2 Para sahabat sepeninggal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah mengambil berkah dengan sahabat lain yang lebih senior, seperti Abu Bakar atau 'Umar. Padahal tidak ada satupun manusia yang lebih mulia dibanding Abu Bakar dan 'Umar, meskipun dia ahlul bait. Ini merupakan dalil tegas bahwa mereka sepakat meninggalkan hal itu.
3. Mengambil berkah dengan orang shalih selain Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bisa mengantarkan kepada sikap melampui batas dalam mengagungkan orang lain. Jika semacam ini boleh dilakukan terhadap orang shalih selain Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, akan membuka peluang besar bagi orang awam untuk melakukan berbagai penyimpangan aqidah. Tentu saja ini berbeda dengan apa yang dilakukan sahabat terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena mereka tidak mungkin sampai melampui batas yang diizinkan syariat.
4 Sangat dimungkinkan munculnya sikap ujub bagi orang yang menjadi sasaran ngalap berkah. Padahal syariat melarang kita melakukan perbuatan yang menjerumuskan orang lain kepada maksiat.
Wallahu'alam
0 Komentar