Oleh : Buya Abu Sa'id Neno Triyono
Sebagian orang menuduh bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah orang yang pertama kali mengharamkan tawassul dengan Jah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam kemudian diikuti oleh ulama-ulama yang mereka labeli sebagai "Wahabi", sehingga dalam hal ini timbul kesan bahwa para Aimah Mutaqadimin yang hidup pada kurun generasi yang terbaik berarti memperbolehkannya.
Syaikhul Islam sebagai ulama yang berpegang teguh dengan warisan Salaf, tentu tidak akan berani mengungkapkan suatu pendapat yang tidak ada salafnya dan ternyata beliau sudah menyampaikan penjelasan bahwa justru para Aimah Mutaqaddimin yang dijadikan panutan telah mendahului beliau dalam melarangnya.
Berikut nukilan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dari para ulama Mutaqaddimin yang melarang tawasul dengan Jah kedudukan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam :
1. Al-Imam Abu Hanifah dan Al-Imam Abu Yusuf rahimahumâllah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
قال أبو الحسين القدوري في شرح الكرخي: قال بشر بن الوليد سمعت أبا يوسف قال: قال أبو حنيفة رحمه الله: لا ينبغي لأحد أن يدعو الله إلا به، وأكره أن يقول: بمعقد العز من عرشك، أو بحق خلقك، قال أبو يوسف: بمعقد العز من عرشه هو الله، فلا أكره هذا، وأكره: بحق فلان، أو بحق أنبيائك ورسلك
Abul Husain Al-Qaduriy dalam Syarah Al-Kurkhi berkata; Bisyir bin Waliid berkata; Aku mendengar Abu Yuusuf berkata; Abu Hanifah berkata :
"Tidak selayaknya seseorang berdoa kecuali dengan Nama Allah. Aku memakruhkan seseorang berdoa dengan berkata: "Dengan keagungan 'ArsyMu atau dengan HAK makhlukmu."
Abu Yuusuf berkata: "Dengan keagungan 'ArysNya adalah Allah, maka aku tidak memakruhkannya, namun aku memakruhkan (bertawassul) dengan hak fulan atau dengan hak para Nabi dan RasulMu...."
Kemudian Syaikhul Islam berkomentar mengenai maksud pe-makruh-an dari para ulama Mutaqaddimin :
والكراهية في كلام السلف كثيرا وغالبا يراد بها التحريم
"Makruh dalam ucapan Salaf kebanyakan yang dimaksudkan adalah pengharaman."
Al-Allamah Murtazha Az-Zubaidi Al-Hanafi (w. 1205 H) rahimahullah berkata :
كره أبو حنيفة وصاحباه أن يقول الرجل أسألك بحق فلان أو بحق أنبيائك ورسلك أو بحق البيت الحرام والمشعر الحرام ونحو ذلك إذ ليس لأحد على الله حق
“Abu Hanifah dan kedua sahabatnya membenci seseorang yang berdoa: “Aku memohon kepada-Mu dengan hak Fulan atau dengan hak para nabi dan rasul-Mu atau dengan hak Baitul Haram dan Masy’arul Haram dan lain sebagainya,” karena tidak ada hak bagi sesuatu pun atas Allah.” (Ithafus Sadatil Muttaqin bi Syarh Ihya’ Ulumid Din, 2/284)
2. Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah.
Syaikhul Islam menegaskan bahwa tidak dinukil dari Al-Imam Malik akan kebolehannya bertawassul dengan Jah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, bahkan kata beliau :
المعروف عن مالك أنه كره للداعي أن يقول: يا سيدي سيدي، وقال: قل كما قالت الأنبياء يا رب يا رب يا كريم. وكره أيضاً أن يقول: ياحنان يامنان . فإنه ليس بمأثور عنه.
فإذا كان مالك يكره مثل هذا الدعاء إذ لم يكن مشروعاً عنده، فكيف يجوز عنده أن يسأل الله بمخلوق نبيًّا كان أو غيره
"Yang ma'ruf dari Imam Maalik bahwa beliau memakruhkan seseorang untuk berdoa, "Ya Sayyidi...Ya Sayyidi...". Al-Imam meluruskan dengan mengatakan, "Ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan para Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Ya Rabb...Ya Rabb...Ya Kariim."
Al-Imam juga tidak suka, seorang berdoa dengan, "Ya Hanan...Ya Manan", karena lafazh ini tidak datang dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Jika Al-Imam Malik memakruhkan berdoa dengan yang sesuatu yang tidak disyariatkan seperti di atas, maka bagaimana mungkin beliau akan memperbolehkan memohon kepada Allah dengan makhlukNya baik berupa Nabi maupun selainnya."
Kesimpulannya adalah sebagaimana disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah :
.لم يكن الصحابة يفعلونه ، في الاستسقاء ونحوه ، لا في حياته ولا بعد مماته , لا عند قبره, ولا غير قبره، ولا يعرف هذا في شيء من الأدعية المشهورة بينهم، وإنما ينقل شيء من ذلك في أحاديث ضعيفة مرفوعة وموقوفة، أو عمن ليس قوله حجة
"Tidak pernah sama sekali para sahabat bertawassul dengan Jah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, baik ketika berdoa dalam shalat Istisqa, maupun pada selainnya, tidak juga pada waktu Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam masih hidup, maupun sesudah wafatnya dan tidak juga berdoa di sisi kuburan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, maupun di sisi kuburan selain Beliau. Tidak diketahui sedikit pun dalam doa-doa yang masyhur di antara para sahabat (bertawasul dengan Jah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam). Hanyalah ini dinukil dari hadits-hadits yang dhaif baik marfu' maupun mauquf atau dari orang yang ucapannya bukanlah hujjah." (Dinukil dari kitab karya Syaikhul Islam yang berjudul "Qaidah Jaliilah fii At-Tawassul wa Al-Wasiilah")
Barangsiapa yang bertawassul kepada Allah dalam doanya dengan jah-nya Nabi shallallahu 'alaihi wa salam atau kehormatannya atau keberkahannya atau jah selain Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dari orang-orang shalih atau kehormatannya atau keberkahannya, ia berkata misalnya :
اللهم بجاه نبيك أو حرمته أو بركته أعطني مالًا وولدًا أو أدخلني الجنة وقني عذاب النار
"Yaa Allah dengan Jahnya Nabi-Mu atau kehormatannya atau keberkahannya, berikanlah daku harta dan anak, masukkan aku kedalam surga dan pelihara daku dari azab neraka".
Maka orang tersebut bukan musyrik yang dapat mengeluarkan dari keislaman, namun perkara ini dilarang dalam rangka tindakan pencegahan jatuh kedalam kesyirikan dan untuk menjauhkan seorang Muslim melakukan sesuatu yang dapat menjerumuskannya kedalam kesyirikan.
Tidak ragu lagi bahwa tawassul dengan Jahnya para Nabi dan shalihin adalah perantara diantara perantara-perantara kesyirikan. Karena tawasul dengan jah atau kehormatan dan semisalnya dalam masalah berdoa adalah ibadah dan ibadah adalah tauqifiyyah, sedangkan disini tidak ada dalil dari Al-kitab dan sunnah Rasul shalallahu 'alaihi wa salam, tidak juga dari para sahabat yang menunjukkan tawassul dengan hal ini, sehingga diketahui bahwa Tawassul ini adalah bid'ah.
Prof. Dr. Syaikh 'Abdullah Dumaiji hafizhahullah ditanya :
السلام عليكم ورحمة الله
فضيلة الشيخ ائذن لي بالسؤال. يوجد عندنا، كاتب قرر في كتابه أن التوسل بالجاة كأن يقول يا رب بسسب جاه الشيخ فلان تقبل دعائي. ويقول بأن هذا الدعاء شرك أكبر! لكن مع ذلك يقول أنه ليست عبادة وإنما بدعة ضلالة. فهل كلامه صحيح؟ لأننا نعرف أن دعاء الله بالجاه شرك أصغر. أفيدونا بارك الله فيكم.
Assalamu'alaikum warahmatullah.
Fadhilatus-Syaikh, izinkan saya bertanya. Ada seorang penulis di negeri kami di bukunya dia menegaskan bahwa tawassul dengan jah atau kedudukan seperti ucapan, “Ya Allah dengan sebab kedudukan Syaikh Fulan terimalah doaku” penulis ini berkata bahwa doa seperti ini syirik besar! Tapi anehnya dia juga mengatakan bukan ibadah, melainkan bid’ah yang sesat. Apakah ucapannya ini benar? Karena setahu kami berdoa kepada Allah dengan kedudukan adalah syirik kecil. Tolong beri kami faidah, semoga Allah memberkahimu.
Beliau menjawab :
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.
التوسل بالجاه ليس شركا وإنما هو وسيلة الى الشرك ويعد بعض العلماء وسائل الشرك من الشرك الأصغر. وعلى كل فكل وسيلة الى محرم فهي محرمة
Wa’alaikumus salam warahmatullahi wa barakatuh.
Tawassul dengan kedudukan bukan syirik, tapi sarana kepada kesyirikan. Dan sebagian ulama menilai sarana-sarana kepada kesyirikan termasuk ke dalam syirik kecil. Bagaimanapun, semua sarana yang mengantarkan kepada yang haram hukumnya haram.
Al-Imam Ibnu Abil Izz rahimahullah berkata :
"Oleh karena itu Imam Abu Hanifah dan murid muridnya membenci seseorang yang ketika berdoa mengucapkan : "Aku memohon kepadaMu dengan hak fulan, atau dengan hak para nabi dan rasulMu, dengan hak batil haram, masyaril haram, dan semisalnya, hingga Abu Hanifah dan Muhammad membenci seseorang yang berkata : Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu dengan tempat duduk yang mulia dari arsyMu."
___
Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah, 1/297
Wallahu'alam
0 Komentar