Di antara ulama Salaf yang membagi tauhid menjadi tiga –yaitu Rububiyah, Uluhiyah dan Al-Asma’ wash Shifat- adalah Al-Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit (w. 150 H) rahimahullah. Beliau berkata :
“والله تَعَالَى يدعى من أعلى لا من أسفل؛ لأنَّ الأسفل ليس من وصف الربوبية والألوهية في شيء
“Allah ta’ala diseru dan diminta dari arah atas bukan dari arah bawah, karena arah bawah bukanlah termasuk sifat Rububiyah dan Uluhiyah sedikit pun.” (Al-Fiqhul Absath, hal. 51)
Prof. Dr. 'Abdurrazzaq bin 'Abdil Muhsin Al-Badr hafizhahumallah mengomentari penuturan Al-Imam Abu Hanifah di atas :
يُدعى من أعلى لا من أسفل»… فيه إثبات العلو لله، وهو من توحيد الأسماء والصفات، وفيه ردّ على الجهمية والمعتزلة والأشاعرة والماتريدية وغيرهم من نفاة العلو.
وقوله: «من وصف الربوبية»: فيه إثبات توحيد الربوبية.
وقوله: «والألوهية»: فيه إثبات توحيد الألوهية.
"Allah ta’ala diseru dan diminta dari arah atas bukan dari arah bawah, maka terdapat penetapan sifat 'uluw bagi Allah, dan hal ini merupakan bagian dari tauhid Al-Asma’ wash Shifat. Dan sekaligus menjadi bantahan atas kaum jahmiyyah, mu'tazilah, asyaa'irah, maturidiyyah dan selainnya dari kalangan orang-orang yang menolak sifat 'uluw bagi Allah.
Karena arah bawah bukanlah termasuk sifat Rububiyah, maka didalamnya terdapat keterangan penetapan tauhid Rububiyyah.
Karena arah bawah bukanlah termasuk sifat Rububiyah dan Uluhiyyah, maka didalamnya terdapat keterangan penetapan tauhid Uluhiyyah."
Al-Imam Al-Qadhi Abu Yusuf (murid Abu Hanifah, w. 182 H) rahimahullah juga mengisyaratkan pembagian tauhid menjadi tiga. Beliau berkata :
تعلم أن هذه الأشياء لها ربٌّ يقلبها ويبديها ويعيدها وأنك مكون ولك من كونك. وإنما دل الله عز وجل خلقه بخلقه ليعرفوا أنَّ لهم رباً يعبدوه ويطيعوه ويوحدوه، ليعلموا أنه مكونهم، لا هم كانوا، ثم تسمى فقال: أنا الرحمن وأنا الرحيم وأنا الخالق وأنا القادر وأنا المالك، أي: هذا الذي كونكم يسمى المالك القادر الله الرحمن الرحيم بها يوصف
“Ketahuilah bahwa ini semuanya (langit dan bumi beserta isinya) memiliki Rabb yang membolak-balikkannya, memulainya (dalam penciptaan) dan mengembalikannya (ketika hari kiamat). Dan sesungguhnya kamu adalah sesuatu yang diciptakan dan ada yang menciptakanmu. Allah ta’ala hanyalah menunjukkan kepada makhluk-Nya tentang penciptaannya agar mereka mengenal bahwa mereka memiliki Rabb yang mereka ibadahi, mereka taati dan mereka esakan agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah Pencipta mereka bukan mereka ada dengan sendirinya.
Kemudian Dia diberi nama sehingga Allah berfirman: “Akulah Ar-Rahman, Akulah Ar-Rahim, Akulah Sang Pencipta, Akulah Sang Penguasa dan Akulah Raja.” Yakni: “Inilah yang menciptakan kalian dinamai Al-Malik, Al-Qadir, Allah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang mana dengannya Ia disifati.” (Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah, 1/123)
Kata “memiliki Rabb yang membolak-balikkannya, memulainya (dalam penciptaan) dan mengembalikannya (ketika hari kiamat)” menunjukkan pada tauhid Rububiyah. Kemudian kata “memiliki Rabb yang mereka ibadahi, mereka taati dan mereka esakan” menunjukkan pada tauhid Uluhiyah. Kata “dinamai Al-Malik, Al-Qadir, Allah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim” menunjukkan tauhid Asma’ wash Shifat.
Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi (w. 321 H) rahimahullah dalam muqaddimah kitab aqidah beliau berkata :
نقول في توحيد الله معتقدين بتوفيق الله إن الله واحد لا شريك له ، و لا شيء مثله ، و لا شيء يعجزه ، و لا إله غيره
'Kami mengatakan di dalam mentauhidkan Allah seraya meyakini -dengan Taufiq dari Allah- : bahwa Allah itu Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada yang melemahkan-Nya, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain-Nya." (Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, tahqiq Al-Albani: 31)
Perkataan beliau : "Tidak ada yang serupa dengan-Nya." Ini adalah bagian dari tauhid Asma’ dan Sifat.
Perkataan beliau : "Tidak ada yang melemahkan-Nya." Ini bagian dari tauhid Rububiyyah.
Perkataan beliau: "Dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain-Nya." Ini bagian dari tauhid Uluhiyyah.
Beliau kembali melanjutkan :
لَهُ مَعْنَى الرُّبُوبِيَّةِ وَلَا مَرْبُوبَ وَمَعْنَى الْخَالِقِ ولا مخلوق
“Bagi-Nya sifat Rububiyah ketika masih belum ada makhluk yang diatur, dan juga sifat ‘Pencipta’ ketika masih belum ada makhluk.” (Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, tahqiq Al-Albani: 34)
Beliau melanjutkan :
وَلَمْ يَخْفَ عَلَيْهِ شَيْءٌ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَهُمْ وَعَلِمَ مَا هُمْ عَامِلُونَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَهُمْ وأمرهم بطاعته ونهاهم عن معصيته
“Tidak samar bagi-Nya sesuatu pun sebelum Dia menciptakan mereka. Allah telah mengetahui apa yang akan mereka perbuat sebelum menciptakan mereka. Allah memerintahkan mereka untuk menaati-Nya dan melarang mereka untuk berbuat maksiat kepada-Nya.” (Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, tahqiq Al-Albani: 35)
Inti dan tujuan akhir dari pelajaran ketiga Tauhid di atas adalah tegaknya ‘Tauhid Uluhiyah’, yaitu diibadahinya Allah ta’ala di muka bumi ini dengan benar.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu ke Yaman, berpesan :
إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ عِبَادَةُ اللَّهِ، فَإِذَا عَرَفُوا اللَّهَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ..الخ
“Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum Ahlul Kitab. Maka jadikanlah pertama kali yang kamu dakwahkan kepada mereka adalah ‘Ibadah kepada Allah’. Jika mereka telah mengenal Allah, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka shalat lima kali sehari semalam..dst.” (Muttafaqun 'alaih)
Al-'Allamah Syihabuddin Al-Qasthalani Asy-Syafi’i rahimahullah berkata :
“(فليكن أول ما تدعوهم إليه عبادة الله)” بنصب أول على أنه خبر كان ورفع عبادة على أنه اسمها أي معرفة الله. وفي رواية الفضل بن العلاء إلى أن يوحدوا الله قال الله تعالى: {وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ} [الذاريات: 56] ويؤيده قوله: (فإذا عرفوا الله) بالتوحيد ونفي الألوهية عن غيره
“Sabda beliau “Maka jadikanlah pertama kali yang kamu dakwahkan kepada mereka adalah ‘Ibadah kepada Allah” maksudnya adalah ‘Ma’rifatullah’ (yakni: mengenal Tauhid Uluhiyah, pen). Di dalam riwayat Al-Fadhil bin Al-Ala’ terdapat lafazh “sampai mereka men-tauhidkan Allah”. Allah ta’ala berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Surah Adz-Dzariyat : 56). Ini diperkuat oleh sabda beliau “Jika mereka telah mengenal Allah” dengan Tauhid dan meniadakan Uluhiyah dari selain-Nya..dst.” (Irsyadus Sari li Syarh Shahihil Bukhari, 3/48)
Terakhir Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Atsqalani rahimahullah memberikan wajangan kepada kita bagaimana cara men-tauhidkan Allah Ta’ala dalam nama dan sifat-Nya. Beliau berkata :
ثم متى ثبت النقل عنه بشيء من أوصافه وأسمائه قبلناه واعتقدناه وسكتنا عما عداه كما هو طريق السلف وما عداه لا يأمن صاحبه من الزلل ويكفي في الردع عن الخوض في طرق المتكلمين ما ثبت عن الأئمة المتقدمين كعمر بن عبد العزيز ومالك بن أنس والشافعي وقد قطع بعض الأئمة بأن الصحابة لم يخوضوا في الجوهر والعرض وما يتعلق بذلك من مباحث المتكلمين فمن رغب عن طريقهم فكفاه ضلالا
“Kemudian, ketika telah shahih penukilan dari-Nya tentang sesuatu dari sifaf-sifat-Nya dan juga nama-nama-Nya, maka kami menerimanya, meyakininya dan berdiam diri dari selain itu, sebagaimana jalan As-Salaf. Dan jalan selain itu, pelakunya tidak merasa aman dari ketergelinciran. Dan cukuplah di dalam berhenti dari menempuh jalan Ahlul Kalam, keterangan yang telah shahih dari para ulama Mataqaddimin seperti 'Umar bin 'Abdul 'Aziz, Malik bin Anas dan Asy-Syafi’i. Sebagian imam telah menentukan bahwa para sahabat Nabi tidak pernah membicarakan masalah Jauhar, Aradh, Jisim dan perkara yang berhubungan dengan itu yang merupakan pembicaraan Ahlul Kalam. Barangsiapa membenci jalan para sahabat, maka cukuplah kesesatannya..dst.” (Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari, 13/350)
Wallahu'alam

0 Komentar