Dalam kitab Talbis Iblis (hal. 222) disebutkan :
وقال رجلٌ لابنِ عباسٍ – رضي الله عنهما –: ما تقولُ في الغناءِ، أحلالٌ هو أم حرام؟
فقال: لا أقولُ حرامًا إلا ما في كتابِ الله.
فقال: أحلالٌ هو؟
فقال: ولا أقولُ ذلك.
ثم قال له: أرأيتَ الحقَّ والباطلَ، إذا جاءا يومَ القيامةِ، فأين يكونُ الغناءُ؟
فقال الرجلُ: يكونُ مع الباطل.
فقال له ابنُ عباسٍ: اذهبْ فقد أفتيتَ نفسَك.
Seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma :
“Apa pendapatmu tentang musik, apakah ia halal atau haram?” Beliau menjawab : “Aku tidak berkata haram melainkan apa yang telah disebutkan dalam kitabullah..” Orang itu bertanya lagi : “Kalau begitu, apakah ia halal?” Beliau menjawab : “Aku juga tidak mengatakan demikian.” Kemudian Ibnu ‘Abbas berkata kepadanya : “Bagaimana menurutmu, jika kebenaran dan kebatilan datang pada hari kiamat, maka musik itu berada di pihak mana?” Laki-laki itu menjawab : “Berada bersama kebatilan.” Maka Ibnu ‘Abbas berkata kepadanya : “Pergilah, engkau telah memberi fatwa untuk dirimu sendiri.”
1. Al-Imam Ibnu Nujaim Al-Hanafi rahimahullah.
Beliau berkata :
وَفِي الْمِعْرَاجِ الْمَلَاهِي نَوْعَانِ مُحَرَّمٌ وَهُوَ الْآلَاتُ الْمُطْرِبَةُ مِنْ غَيْرِ الْغِنَاءِ كَالْمِزْمَارِ سَوَاءٌ كَانَ مِنْ عُودٍ أَوْ قَصَبٍ كَالشَّبَّابَةِ أَوْ غَيْرِهِ كَالْعُودِ وَالطُّنْبُورِ لِمَا رَوَى أَبُو أُمَامَةَ أَنَّهُ – عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ – قَالَ «إنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ وَأَمَرَنِي بِمَحْقِ الْمَعَازِفِ وَالْمَزَامِيرِ» وَلِأَنَّهُ مُطْرِبٌ مُصِدٌّ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَالنَّوْعُ الثَّانِي مُبَاحٌ وَهُوَ الدُّفُّ فِي النِّكَاحِ وَفِي مَعْنَاهُ مَا كَانَ مِنْ حَادِثِ سُرُورٍ وَيُكْرَهُ فِي غَيْرِهِ
"Tingkatan hukum alat-alat musik ada dua jenis: Pertama. Yang diharamkan yaitu alat-alat musik untuk nyanyian yang dimainkan tanpa lagu seperti seruling, sama saja baik yang terbuat dari kayu atau rotan, seperti klarinet atau alat lainnya seperti kecapi, tamburin, berdasarkan riwayat dari Abu Umamah bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah mengutusku sebagai rahmat bagi semesta alam dan memerintahkan aku menghancurkan alat-alat musik dan seruling”, karena itu merupakan nyanyian yang dapat menghalangi ingatan kepada Allah Taala.
Kedua, yang dibolehkan yaitu rebana dalam pernikahan, semakna dengan ini adalah kondisi apa saja berupa peristiwa yang menyenangkan, dan dimakruhkan rebana diluar waktu ini." (Al-Bahru Ar-Ra-iq, 7/88)
2. Al-Imam Abul Ma’ali Al-Bukhari Al-Hanafi rahimahullah.
Beliau mengatakan :
وفي فتاوى أهل سمرقند استماع صوت الملاهي كالضرب بالقصب، وغير ذلك من الملاهي حرام، وقد قال عليه السلام: استماع الملاهي معصية والجلوس عليها فسق والتلذذ بها من الكفر
"Dalam Fatawa Ahli Samarqandi disebutkan bahwa mendengarkan suara hiburan seperti memukul rotan dan alat hiburan lainnya adalah haram. Sebagaimana sabda nabi: mendengarkan alat hiburan adalah maksiat, duduk mendengarkannya adalah fasiq, menikmatinya adalah kufur." (Al-Muhith Al-Burhani, 5/369)
Al-Hafizh Ibnul Qayyim mengatakan hadits yang dimaksud ini tidaklah sampai kepada Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
3. Al-Imam Abu 'Abdillah Zainuddin 'Abdul Qadir Al-Hanafi rahimahullah.
Beliau menuliskan :
اسْتِمَاع الملاهي وَسَمَاع صَوت الملاهي كلهَا حرَام فَإِن سمع بَغْتَة فَهُوَ مَعْذُور ثمَّ يجْتَهد أَن لَا يسمع مهما أمكنه
"Mendengarkan secara sengaja alat-alat musik, semuanya adalah haram, sedangkan mendengarkannya secara tidak diduga hal itu dimaafkan, kemudian hendaknya dia bersungguh-sungguh untuk tidak mendengarkannya sebisa mungkin." (Tuhfatul Muluk, hal. 238)
4. Al-Imam Ad-Dasuqi Al-Maliki rahimahullah.
Beliau mengatakan :
وَقِيلَ هِيَ جَائِزَةٌ فِي النِّكَاحِ، وَلَا يَلْزَمُ مِنْ جَوَازِهَا جَوَازُ كِرَائِهَا وَالرَّاجِحُ أَنَّ الدُّفَّ وَالْكَبَرَ جَائِزَانِ لِعُرْسٍ مَعَ كَرَاهَةِ الْكِرَاءِ، وَأَنَّ الْمَعَازِفَ حَرَامٌ كَالْجَمِيعِ فِي غَيْرِ النِّكَاحِ فَيَحْرُمُ كِرَاؤُهَا
"Dikatakan: boleh dimainkan dalam pernikahan. Pembolehan itu tidaklah lantas boleh juga disewakan. Pendapat yang lebih kuat adalah rebana dan gendang itu boleh dimainkan ketika pesta, namun makruh menyewanya, sesungguhnya semua alat-alat musik haram dimainkan di luar nikah, maka haram juga menyewa di luar nikah." (Hasyiah Ad-Dasuqi ‘ala Syarhil Kabir, 4/18)
5. Al-Imam Abu Muhammad Al-Qairuwani Al-Maliki rahimahullah.
Beliau mengatakan :
ولا يحل لك أن تتعمد سماع الباطل كله ولا أن تتلذذ بسماع كلام امرأة لا تحل لك ولا سماع شيء من الملاهي والغناء
"Tidak dihalalkan bagimu menyengaja mendengarkan kebatilan (kesia-siaan) semuanya, dan jangan pula menikmati suara ucapan perempuan, itu tidak halal bagimu, dan tidak pula halal mendengarkan alat-alat musik dan nyanyian." (Ar-Risalah, hal. 154)
6. Al-Imam Ibnu Rusyd Al-Maliki rahimahullah.
Beliau mengatakan :
ولا يجوز تعمد حضور شيء من اللهو واللعب، ولا من الملاهي المطربة كالطبل والزمر وما كان في معناه
"Tidak boleh menyengaja hadir ke tempat hiburan, permainan, dan juga alat-alat musik yang diiringi nyanyian, seperti seruling, dan apa-apa yang semakna." (Al-Muqaddimat, 3/462)
Tapi Beliau juga mengatakan :
ورخص من ذلك في النكاح الدف وهو الغربال باتفاق، والكبر والمزهر على ثلاثة أقوال: إباحتها جميعا، وكراهتهما جميعا، وإباحة الكبر دون المزهر، قيل: للنساء دون الرجال، وقيل: للنساء والرجال. واختلف هل هو من قبيل المباح الذي يستوي فعله وتركه، أو هو من قبيل المباح الذي تركه أحسن من فعله وبالله التوفيق
"Diringankan musik pada pernikahan seperti rebana, menurut kesepakatan ulama, ada pun gendang dan kecapi ada tiga pendapat : 1. boleh semua, 2. makruh keduanya, 3. membolehkan gendang, tapi tidak bagi kecapi. Ada yang mengatakan: boleh bagi wanita, laki-laki tidak. Ada yang bilang: boleh bagi wanita dan laki-laki juga. Juga terdapat perbedaan, apakah dari sisi kebolehannya itu sama saja antara memainkan dan meninggalkannya, ataukah meninggalkannya lebih baik dibanding memainkannya." (Ibid)
7. Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah.
Beliau mengatakan :
آلَاتُ الْمَلَاهِي كَالْبَرْبَطِ وَالطُّنْبُورِ وَغَيْرِهِمَا، وَكَذَا الصَّنَمُ وَالصَّلِيبُ، لَا يَجِبُ فِي إِبْطَالِهَا شَيْءٌ، لِأَنَّهَا مُحَرَّمَةُ الِاسْتِعْمَالِ، وَلَا حُرْمَةَ لِتِلْكَ الصَّنْعَةِ
"Alat-alat musik seperti tamburin dan lainnya, begitu pula berhala dan salib, tidaklah ada kewajiban ganti rugi apa pun ketika membatalkannya (dalam jual beli, pen), sebab itu adalah benda-benda yang diharamkan untuk dimanfaatkan dan itu bukanlah benda yang terhormat." (Raudhatuth Thalibin, 5/17)
Tegas Imam An-Nawawi mengatakan alat-alat musik adalah benda Al-Muharramah (yang diharamkan). Beliau juga mengatakan :
ويكره الغناء بلا آلة وسماعه ويحرم استعمال آلة من شعار الشربة كطنبور وعود وصنج ومزمار عراقي وإسماعها لا يراع في الأصح. قلت: الأصح تحريمه والله أعلم
"Dimakruhkan mendengarkan nyanyian yang tanpa alat musik. Diharamkan memainkan dan mendengarkan alat musik yang biasa dipakai sebagai simbol para peminum seperti tamburin, kecapi, shanju, seruling Iraq dan mendengarkannya tanpa yara’. Aku berkata: yang benar yara’ (semacam seruling) adalah haram. Wallahu A’lam." (Minhajuth Thalibin, 1/345)
8. Al-Imam Abul Hasan Al-Mawardi Asy-Syafi’i rahimahullah.
Beliau mengatakan :
فَأَمَّا الْحَرَامُ: فَالْعُودُ وَالطُّنْبُورُ وَالْمِعْزَفَةُ وَالطَّبْلُ وَالْمِزْمَارُ وَمَا أَلْهَى بِصَوْتٍ مُطْرِبٍ إِذَا انْفَرَدَ
"Ada pun musik yang diharamkan adalah kecapi, tamburin, gendang, seruling, dan suara nyanyian apa saja yang melalaikan biar pun sendirian." (Al-Hawi Al-Kabir, 17/191)
9. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Al-Hambali rahimahullah.
Beliau mengatakan :
فَأَمَّا الْمُشْتَمِلُ عَلَى الشَّبَّابَاتِ وَالدُّفُوفِ المصلصلة فَمَذْهَبُ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ تَحْرِيمُهُ.
"Ada pun musik yang mencakup klarinet dan rebana maka madzhab imam yang empat mengharamkannya." (Majmu’ Al-Fatawa, 11/535)
10. Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Hambali rahimahullah.
Beliau menegaskan musik ada tiga hukum, haram, mubah, dan makruh, berikut ini rinciannya :
فِي الْمَلَاهِي: وَهِيَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ؛ مُحَرَّمٌ، وَهُوَ ضَرْبُ الْأَوْتَارِ وَالنَّايَاتُ، وَالْمَزَامِيرُ كُلُّهَا، وَالْعُودُ، وَالطُّنْبُورُ، وَالْمِعْزَفَةُ، وَالرَّبَابُ، وَنَحْوُهَا، فَمَنْ أَدَامَ اسْتِمَاعَهَا، رُدَّتْ شَهَادَتُهُ؛ لِأَنَّهُ يُرْوَى عَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ قَالَ: «إذَا ظَهَرَتْ فِي أُمَّتِي خَمْسَ عَشْرَةَ خَصْلَةً، حَلَّ بِهِمْ الْبَلَاءُ» . فَذَكَرَ مِنْهَا إظْهَارَ الْمَعَازِفِ وَالْمَلَاهِي
"Tentang musik, ada tiga jenis: Diharamkan, yaitu memainkan musik yang bersenar, semua jenis seruling, kecapi, tamburin, mi’zafah, rebab, dan semisalnya. Barang siapa yang rutin mendengarkannya maka dia tertolak kesaksiannya. Sebab diriwayatkan dari 'Ali bin Thalib radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam “jika muncul pada umatku 15 hal, maka bencana halal bagi mereka,” lalu nabi menyebutkan salah satunya adalah alat-alat musik dan hiburan." (Al-Mughni, 10/153)
Ada pun jenis yang boleh adalah rebana pada saat pernikahan dan hari-hari yang menyenangkan, diluar itu makruh. Katanya :
وَضَرْبٌ مُبَاحٌ؛ وَهُوَ الدُّفُّ؛ فَإِنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «أَعْلِنُوا النِّكَاحَ، وَاضْرِبُوا عَلَيْهِ بِالدُّفِّ» . أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ. وَذَكَرَ أَصْحَابُنَا، وَأَصْحَابُ الشَّافِعِيِّ، أَنَّهُ مَكْرُوهٌ فِي غَيْرِ النِّكَاحِ؛ لِأَنَّهُ يُرْوَى عَنْ عُمَرَ، أَنَّهُ كَانَ إذَا سَمِعَ صَوْتَ الدُّفِّ، بَعَثَ فَنَظَرَ، فَإِنْ كَانَ فِي وَلِيمَةٍ سَكَتَ، وَإِنْ كَانَ فِي غَيْرِهَا، عَمَدَ بِالدُّرَّةِ. وَلَنَا، مَا رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْهُ، فَقَالَتْ: إنِّي نَذَرْت إنْ رَجَعْت مِنْ سَفَرِك سَالِمًا، أَنْ أَضْرِبَ عَلَى رَأْسِك بِالدُّفِّ. فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَوْفِ بِنَذْرِك» . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد
وَلَوْ كَانَ مَكْرُوهًا لَمْ يَأْمُرْهَا بِهِ وَإِنْ كَانَ مَنْذُورًا. وَرَوَتْ الرُّبَيِّعُ بِنْتُ مُعَوِّذٍ، قَالَتْ: «دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَبِيحَةَ بُنِيَ بِي، فَجَعَلَتْ جُوَيْرِيَّاتٌ يَضْرِبْنَ بِدُفٍّ لَهُنَّ، وَيَنْدُبْنَ مَنْ قُتِلَ مَنْ آبَائِي يَوْمَ بَدْرٍ، إلَى أَنْ قَالَتْ إحْدَاهُنَّ: وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ. فَقَالَ: دَعِي هَذَا، وَقُولِي الَّذِي كُنْت تَقُولِينَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
"Jenis yang mubah adalah, memukul rebana, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Beritakanlah pernikahan dan pukullah rebana.” (Hadits Riwayat Muslim). Sahabat-sahabat kami (Hambaliyah), dan sahabat-sahabat Syafi’i (Syafi’iyah) menyebutkan bahwa rebana makruh jika di selain pernikahan, sebab diriwayatkan dari 'Umar bahwa jika dia mendengar suara rebana maka dia bangun dan memandanginya, tapi jika itu terjadi dalam pesta maka Beliau diam. Bagi kami, apa-apa yang diriwayatkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa ada seorang wanita datang kepadanya dan berkata: Saya bernadzar jika engkau (nabi) pulang dari safar dalam keadaan selamat saya akan memainkan rebana di hadapanmu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Penuhi nadzarmu.” (Hadits Riwayat Abu Dawud)
Seandainya itu (memukul rebana, pen) makruh tentu nabi tidak akan memerintahkannya untuk memukulnya, walaupun itu dalam bentuk nadzar. Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke rumahku pada pagi hari, maka ada dua budak wanita yang memukul-mukul rebana, lalu menyenandungkan lagu tentang peristiwa ayah-ayah kami saat perang Badar, sampai salah satu di antara mereka berkata: di tengah kita hadir seorang nabi yang mengetahui hari esok. Rasulullah bersabda, “Tinggalkan kata-kata itu, katakanlah yang lainnya yang ingin kau katakan.” (Ibid)
Imam Ibnu Qudamah menjelaskan musik yang makruh, yaitu jika dimainkan oleh kaum laki-laki, sebab itu merupakan penyerupaan terhadap wanita dan banci. Menurutnya, kaum wanitalah yang memainkan rebana sebagaimana riwayat-riwayat yang ada, bukan kaum laki-laki.
Berikut ini penjelasannya :
أَمَّا الضَّرْبُ بِهِ لِلرِّجَالِ فَمَكْرُوهٌ عَلَى كُلِّ حَالٍ؛ لِأَنَّهُ إنَّمَا كَانَ يَضْرِبُ بِهِ النِّسَاءُ، وَالْمُخَنَّثُونَ الْمُتَشَبِّهُونَ بِهِنَّ، فَفِي ضَرْبِ الرِّجَالِ بِهِ تَشَبُّهٌ بِالنِّسَاءِ، وَقَدْ لَعَنَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ. فَأَمَّا الضَّرْبُ بِالْقَضِيبِ، فَمَكْرُوهِ إذَا انْضَمَّ إلَيْهِ مُحَرَّمٌ أَوْ مَكْرُوهٌ، كَالتَّصْفِيقِ وَالْغِنَاءِ وَالرَّقْصِ، وَإِنْ خَلَا عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ لَمْ يُكْرَهْ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ بِآلَةٍ وَلَا بِطَرِبٍ، وَلَا يُسْمَعُ مُنْفَرِدًا
"Ada pun laki-laki memukul rebana, itu makruh dalam segala keadaan. Karena dahulu itu dimainkan oleh kaum wanita. Itu merupakan kebancian dan peniruan terhadap kaum wanita. Maka, laki-laki yang memainkan rebana itu adalah tasyabbuh terhadap wanita. Dan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melaknat kaum laki-laki yang menyerupai kaum wanita.
Sedangkan memukul batang pohon makruhnya jika dibarengi hal-hal yang haram seperti tepuk tangan, menyanyi, dan menari. Jika tidak dibarengi itu, tidak makruh sebab itu bukan alat musik dan tidak bisa didengar secara sendiri.” (Ibid, 10/155)
11. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh Al-Hambali rahimahullah.
Beliau menyatakan keharaman berobat dengan mendengarkan alat-alat musik. Berikut ini keterangannya :
(ويحرم) التداوي، (بمحرم أكلاً وشرباً، وصوت ملهاة) يحرم أن يشرب حراماً تداويا به، أو يأكل حراماً تداوياً به، أو يتداوى بصوت ملهاة: مثل الطبل، أو دف، أو مزمار، أو غير ذلك من الملاهي الكثيرة؛ فهو منهي عنه
"(Diharamkan) berobat (dengan yang haram baik makanan atau minuman dan suara hiburan) diharamkan menggunakan minuman haram sebagai obat, atau memakan makanan haram sebagai obat, atau berobat dengan suara hiburan seperti: gendang, rebana, seruling, atau alat musik lainnya yang begitu banyak, maka hal itu terlarang." (selesai kutipan dari Syaikh Ibrahim)
Kemudian Beliau mengutip surat Luqman ayat 6 (Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan), lalu memberikan penjelasan :
فدخل في ذلك الملاهي كلها، فيحرم حضورها فهي من جملة المحرمات التي ليس فيها شفاء، بل كثير من المحرمات تزيد الداء داء
"Maka, yang termasuk lahwul hadits adalah semua alat-alat hiburan, diharamkan menghadirkannya sebab secara global itu adalah termasuk keumuman hal-hal yang diharamkan, itu bukan obat bahkan banyak melakukan perkara-perkara yang diharamkan justru menambah penyakit." (Syarh Kitab Adab Al-Musyi, hal. 169)
Wallahu'alam
0 Komentar