Subscribe Us

header ads

Perbandingan Awamnya Salafi Dengan Awamnya Sufi


Oleh : Buya Zakariya Rizky Abu Zakiyyah

Tentang tabarruk kubur. Mengingatkan saya kembali kepada diskusi yang dinukil oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan .

Tatkala sebagian ulama kuburiyyun berkata kepada seorang awam ahli tauhid :

“Kalian mengatakan bahwa para wali itu tidak bisa memberi manfaat dan mudhorot?” Orang awam ini menjawab: “Kami katakan bahwa mereka tidak bisa memberi manfaat dan juga mudhorot!”

Ulama kuburiyyun ini berkata: “Bukankah Allah telah berfirman, ‘Dan janganlah kamu mengira bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup dan diberi rizki di sisi Tuhannya’. Orang awam menjawab: “Apakah Allah berkata yurzaqun (mereka diberi rizki) atau yurzaqun (mereka memberi rizki)?”

Ulama kuburiyyun itu menjawab: “Bahkan yurzaqun (mereka diberi rizki) dengan mendhammahkan Ya”. Orang awam ini berkata: “Kalau begitu, aku akan meminta kepada Dzat yang memberi rizki mereka, dan tidak meminta kepada mereka (yang diberi rizki) ”

Maka ulama kuburiyyun tersebut terbungkam dengan hujjah seorang awam yang ia berjalan di atas fithrahnya. (At-Ta'liqaat Al-Mukhtasharah 'ala Matni Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah, hal. 46) 

Segala sesuatu itu faqir (butuh) kepada Allah. Maka kita meminta kepada Dzat yang memberi bukan kepada yang diberi. 

Syaikh mengatakan: “Bagaimana bisa engkau beribadah kepada sesuatu yang fakir dan melupakan Dzat yang ditanganNya lah kekuasaan segala sesuatu?”

Kisah pada tema ini pernah dicontohkan oleh Sultanul-Mutakallimin Fakhruddin Ar-Razi Asy-Syafi‘i Al-Asy‘ari. Beliau menuturkan :

“Mereka membuat berbagai patung dan arca yang menggambarkan sosok para nabi dan tokoh² mulia mereka. Mereka meyakini bahwasanya jika mereka beribadah kepada patung-patung tersebut, maka tokoh-tokoj mulia tersebut akan memberi syafaat kepada mereka di sisi Allah Ta'ala. 

Dan yang semisal dengan perbuatan ini di zaman sekarang adalah pengagungan terhadap berbagai kuburan orang mulia yang dilakukan oleh kebanyakan orang, sembari meyakini bahwasanya jika mereka mengagungkan kuburan² tersebut, maka ahli kuburnya akan memberi syafaat bagi mereka di sisi Allah.”  (Mafatihul-Ghaib, 17/63) 

Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah menasehatkan :

لا يجوز أن يطاف بقبره صلى الله عليه وسلم ويكره الصاق الظهر والبطن بجدار القبر قاله أبو عبيد الله الحليمي وغيره قالوا ويكره مسحه باليد وتقبيله بل الادب أن يبعد منه كما يبعد منه لو حضره في حياته صلى الله عليه وسلم هذا هو الصواب الذي قاله العلماء وأطبقوا عليه ولا يغتر بمخالفة كثيرين من العوام وفعلهم ذلك فان الاقتداء والعمل انما يكون بالاحاديث الصحيحة وأقوال العلماء ولا يلتفت إلى محدثات العوام وغيرهم وجهالاتهم

“Tidak diperbolehkan melakukan thawaf mengelilingi kuburan beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Dibenci menempelkan punggung dan perut di tembok kuburan. Demikian ucapan Abu 'Ubaidillah Al-Halimi dan lainnya. Mereka menyatakan: “Dan dibenci mengusap-usap kuburan dengan tangan dan (dibenci pula) menciumi kuburan. Tetapi menurut adabnya adalah menjauh dari kuburan beliau sebagaimana kita agak menjauh dari tubuh beliau ketika berada di hadapan beliau ketika beliau masih hidup.” Inilah yang benar yang diucapkan oleh para ulama dan mereka bersepakat atasnya dan janganlah ia tertipu dengan perbuatan kebanyakan orang awam yang menyelisihi adab. Ini karena meneladani beliau dan beramal hanyalah berdasarkan hadits-hadits shahih dan pendapat para ulama. Dan tidak perlu menoleh pada perbuatan dan kebodohan yang diada-adakan oleh orang awam dan selain mereka.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 8/275) 

Wallahu'alam

Posting Komentar

0 Komentar