Oleh : Buya Abu Fadhel
Aqidah ahlussunnah wal jamaah itu menetapkan sifat-sifat Allah yang tertera dalam alquran dan assunnah tanpa melakukan tahrif (penyimpangan makna atau lafaz) dan tanpa ta’thil (pengingkaran), dan tanpa melakukan takyif (menggambarkan sifat Allah ta’ala) dan tanpa tamtsil (menyerupakan sifat Allah ta’ala dengan makhluk-Nya).
Berkata Ibnu Abdul Barr rahimahullah,
أهل السنة مجمعون على الإقرار بالصفات الواردة في الكتاب والسنة وحملها على الحقيقة لا على المجاز ، إلا أنهم لم يكيفوا شيئا من ذلك. "العلو للعلي الغفار" (ص 250)
Ahlussunnah sepakat untuk menetapkan sifat-sifat yang tertera dalam Al-Quran dan Sunah serta membawanya (memahaminya) secara hakikat, bukan secara kiasan. Hanya saja mereka tidak (menetapkan) sedikitpun tata caranya dari yang demikian itu. (Al-Uluw Lil Aliyyil Ghaffar, hal. 250)
Di dalam kitab lain, berkata Ibnu Abdil Bar rahimahullah,
" أهل السنة مجمعون على الإقرار بالصفات الواردة كلها في القرآن والسنة والإيمان بها ، وحملها على الحقيقة لا على المجاز ، إلا أنهم لا يكيفون شيئا من ذلك ، ولا يحدون فيه صفة محصورة ، وأما أهل البدع والجهمية والمعتزلة كلها والخوارج فكلهم ينكرها ، ولا يحمل شيئا منها على الحقيقة " انتهى ، من "التمهيد" (7/145) .
“Ahlus sunnah telah berijma dalam meyakini Sifat-sifat Allah yang tertera di dalam al Qur’an dan Sunnah dan mengimaninya, dan membawanya kepada makna yang hakiki bukan kepada makna majas (kiasan), hanya saja mereka tidak menyerupakan dengan sesuatu apapun, dan mereka tidak membatasinya pada sifat tertentu. Adapun para ahli bid’ah, Jahmiyah, semua Mu’tazilah dan Khawarij, mereka semua mengingkarinya, dan tidak membawa makna sifat-sifat Allah tersebut kepada makna yang hakiki”. (At Tamhid: 7/145).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,
إفراد الله سبحانه وتعالى بما سمى به نفسه، ووصف به نفسه؛ في كتابه، أو على لسان رسوله صلى الله عليه وسلم، نفيا وإثباتا؛ فيثبت له ما أثبته لنفسه، وينفي عنه ما نفاه عن نفسه؛ من غير تحريف ولا تعطيل، ومن غير تكييف ولا تمثيل
Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan apa-apa yang diriNya menamakan dan mensifati dengannya dalam kitabNya atau atas lisan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, dalam meniadakan dan menetapkan. Yaitu dengan menetapkan nama dan sifat yang Dia tetapkan dan menafikan apa yang Dia nafikan. Tanpa melakukan tahrif, ta’thil, takyif dan tanpa tamtsil. (Majmu Fatawa).
Berkata Syaikh Utsaimin rahimahulllah,
"إفراد الله تعالى بما سمى به نفسه ووصف به نفسه في كتابه، أو على لسان رسوله صلى الله عليه وسلم وذلك بإثبات ما أثبته، ونفي ما نفاه من غير تحريف، ولا تعطيل، ومن غير تكييف، ولا تمثيل
“Mengesakan Allah ta’ala pada nama yang Dia namakan untuk diri-Nya dan sifat yang Dia sifatkan untuk diri-Nya di dalam kitab-Nya atau melalui lisan (sunnah) Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam.
Yaitu dengan menetapkan nama dan sifat yang Dia tetapkan dan menafikan apa yang Dia nafikan.
Tanpa melakukan tahrif (penyimpangan makna atau lafaz) dan tanpa ta’thil (pengingkaran), dan tanpa melakukan takyif (menggambarkan sifat Allah ta’ala) dan tanpa tamtsil (menyerupakan sifat Allah ta’ala dengan makhluk-Nya).” (Syarhu Tsalatsatil Ushul)
Menetapkan Allah Ta'ala mempunyai sifat tangan, wajah, turun ke langit bumi, istiwa di atas arasy dan lain sebagainya dari sifat-sifat Allah. Dan ini bukan bentuk menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Yang namanya menyerupakan Allah itu seperti mengatakan, tangan Allah seperti tanganku, wajah Allah seperti wajah si pulan, turunnya Allah seperti turunnya si pulan dari kursi dan semisalnya.
Al-Imam Ishaq bin Rahawaih rahimahullah :
إنما يكون التشبيه إذا قال : يد مثل يدي أو سمع كسمعي، فهذا تشبيه. وأما إذا قال كما قال الله : يد وسمع وبصر، فلا يقول : كيف، ولايقول : مثل، فهذا لا يكون تشبيهاً، قال تعالى : (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
”Sesungguhnya tasybih itu hanya terjadi ketika seseorang itu mengatakan : ”Tangan (Allah) seperti tanganku, pendengaran (Allah) seperti pendengaranku”. Inilah yang dinamakan TASYBIH (penyerupaan). Adapun jika seseorang mengatakan seperti firman Allah : ’Tangan, pendengaran, penglihatan’, kemudian ia tidak menyatakan : ’bagaimana’ dan ’seperti’; maka itu tidak termasuk tasybih. Allah berfirman : ”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Mukhtashar Al-’Ulluw lidz-Dzahabi, hal. 69)
Menetapkan Allah memiliki sifat tangan, wajah, turun, istiwa dan lain sebagainya bukan mengatakan Allah punya jism. Makanya para ulama mengatakan itu sifat dan sifat bukan jism (organ tubuh).
Berkata Imam Ahmad rahimahullah,
إِن لله تَعَالَى يدان وهما صفة لَهُ فِي ذَاته ليستا بجارحتين وليستا بمركبتين وَلَا جسم وَلَا جنس من الْأَجْسَام وَلَا من جنس الْمَحْدُود والتركيب والأبعاض والجوارح وَلَا يُقَاس على ذَلِك لَا مرفق وَلَا عضد وَلَا فِيمَا يَقْتَضِي ذَلِك من إِطْلَاق قَوْلهم يَد إِلَّا مَا نطق الْقُرْآن بِهِ أَو صحت عَن رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم السّنة فِيهِ
Sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai yadani (dua tangan) dan keduanya adalah sifat bagi-Nya dalam Dzat-Nya. Keduanya bukan organ tubuh untuk bekerja (tangan/kaki), bukan susunan, bukan jism atau pun jenis dari jism, bukan kategori sesuatu yang bisa diukur, tersusun, fragmen atau anggota tubuh untuk bekerja (jawarih). “Tangan” itu tak bisa dikiaskan dengan apa pun, bukan siku, bukan lengan, dan bukan pula apa yang dipahami dari kata “tangan” secara umum, kecuali [yang boleh adalah mengatakan] apa yang diucapkan oleh al-Qur’an atau apa yang sahih dari hadits Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam.” (al-Khallal, al-‘Aqidah, 104).
Berkata Abu Fadl at-Tamimy (410 H) rahimahullah,
إِنَّ الأَسْمَاءَ مَأْخُوذَةٌ مِنَ الشَّرِيعَةِ وَاللُّغَةِ، وَأَهْلُ اللُّغَةِ وَضَعُوا هَذَا الاسْمَ – أَيِ الْجِسْمَ – عَلَى ذِي طِولٍ وَعَرْضٍ وَسَمْكٍ وَتَرْكِيبٍ وَصُورَةٍ وَتَأْلِيفٍ، وَاللهُ خَارِجٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ – أي مُنزَّهٌ عَنْه – فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُسمَّى جِسْمًا لِخروجِهِ عَنْ مَعْنَى الْجِسْمِيّةِ، وَلَمْ يَجِىءْ في الشَّرِيعَةِ ذَلِكَ فَبَطلَ
"Sesungguhnya istilah-istilah itu diambil dari peristilahan syariah dan peristilahan bahasa sedangkan ahli bahasa menetapkan istilah ini (jism) untuk sesuatu yang punya panjang, lebar, tebal, susunan, bentuk dan rangkaian, sedangkan Allah berbeda dari itu semua. Maka dari itu, tidak boleh mengatakan bahwa Allah adalah jism sebab Allah tak punya makna jismiyah. Dan, istilah itu juga tidak ada dalam istilah syariat, maka batal menyifati Allah demikian." (Abu al-Fadl at-Tamimy, I’tiqâd al-Imam al-Munabbal Ahmad bin Hanbal, 45).
Berkata Al Imam Al Qadhi Abil Walid Al Baji Al Maliki (W 494 H) rahimahullah,
وأجمع أهل السنة على أن يديه صفة، وليست بجوارح كجوارح المخلوقين لأنه سبحانه ليس كمثله شيء، وهو السميع البصير.
Ahli Sunnah telah sepakat bahwasanya kedua tangannya Allah adalah sifat bukan anggota badan seperti anggota badannya makhluk. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak Ada sesuatu yang menyerupainya dan ia dzat yang maha mendengar lagi maha melihat. (Al Muntaqa Syarah Al Muwattha': 9/268)
Berkata Imam ath-Thabari –rahimahullah-. pada saaat menjelaskan firman Allah –Azza wa jalla-:
بَلۡ يَدَاهُ مَبۡسُوطَتَانِ
“Tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka”. (Surah Al-Maidah : 54)
Beliau menyebutkan perkataan ulama yang meyakini bahwa tangan disitu merupakan sifat Allah –Azza wa jalla-, hanya saja ia berbeda dari sifat makhlukNya, tidak seperti anggota tubuh manusia. Beliau berkata :
وقال آخرون منهم: بل”يد الله” صفة من صفاته، هي يد، غير أنها ليست بجارحة كجوارح بني آدم
“Sebagian orang berkata, justru tangan Allah merupakan sifat dari sifat-sifatNya. Ia benar-benar tangan. Hanya saja, tangan Allah tidak seperti anggota tubuh manusia.” (Ath-Thobari, Jami’ al-Bayan. Tahqiq Islam Manshur Abdul Hamid, jilid 4, hal. 508, Daar al-Hadits-Kairo, t.cet., 1431 H.)
Kemudian beliau berkata :
قالوا: ففي قول الله تعالى:”بل يداه مبسوطتان”، مع إعلامه عبادَه أن نعمه لا تحصى، مع ما وصفنا من أنه غير معقول في كلام العرب أن اثنين يؤدّيان عن الجميع= ما ينبئ عن خطأ قول من قال: معنى”اليد”، في هذا الموضع، النعمة= وصحةِ قول من قال: إن”يد الله”، هي له صفة. قالوا: وبذلك تظاهرت الأخبار عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، وقال به العلماء وأهل التأويل.
“Mereka berkata, pada firman Allah (yang artinya) “Justru kedua tangannya terbuka” sementara Allah telah mengabarkan bahwa nikmat yang Dia berikan pada hambaNya tidak terhitung jumlahnya, dan tidak diketahui dari bahasa Arab bahwa lafaz ganda bermakna jamak, memberikan informasi kesalahan orang-orang yang mengatakan tangan Allah sebagai nikmat pada ayat ini, serta menunjukkan kebenaran orang-orang yang mengatakan sesungguhnya tangan Allah merupakan SIFAT bagiNya.” Hal itu karena riwayat akan hal itu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat banyak, dan begitulah para ulama dan ahli takwil menyatakannya.” (Ath-Thobari, Jami’ al-Bayan, tahqiq Islam Manshur Abdul Hamid, jilid 4, hal. 509, Daar al-Hadits-Kairo, t.cet., 1431 H.)
Dan berkata Imam Thabari rahimahullah,
ويبقى وجه ربك يا محمد ذو الجلال والإكرام; وذو الجلال والإكرام من نعت الوجه فلذلك رفع ذو
“Yang kekal hanyalah wajah Tuhanmu (maksudnya Allah), dan dzu al-Jalali wal ikram (yang memiliki ketinggian dan kemuliaan) merupakan SIFAT wajah. Oleh karena itu disebut “dzu” disebut dalam bentuk marfu’.” (Ath-Thobari, Jami’ al-Bayan, Tahqiq Islam Manshur Abdul Hamid, jilid 10, hal. 557, Daar al-Hadits-Kairo, t.cet., 1431 H.)
Berkata Imam Abu Hamid Makki Al Qurtubi (W 437 H) rahimahullah,
واليد عند أهل النظر والسُّنَّة في هذا الموضع وما كان مثله: صفة من صفات الله عز وجل ليست بجارحة، فعلينا أن نصفه بما وصف به نفسه لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فلا يحل لأحد أن يعتقد الجوارح الله سبحانه، إذ ليس كمثله شيء.
Dan (kata) tangan bagi ahli nadhar dan ahli Sunnah pada ayat ini dan semisalnya: merupakan SIFAT daripada sifat-sifatnya Allah Azza wa Jalla dan bukan anggota tubuh. Kita wajib menyifati Allah dengan apa apa yang ia telah sifatkan pada dirinya sendiri tidak ada sesuatu yang menyerupai nya. Jadi, tidak halal bagi siapapun yang meyakini anggota tubuh terhadap Allah Subhanahu. (Tafsir Al Hidayah Ilaa Bulugh Annihayah: 1/183)
Berkata Walid bin Muslim rahimahullah (wafat tahun 195 H),
قال سألت مالك بن أنس و سفيان الثوري و الليث بن سعد و الأوزاعي عن الأخبار التي جاءت في الصفات فقالوا أمروها كما جاءت بلا كيف
“Aku pernah bertanya kepada Imam Malik bin Anas, Sufyan Ats-Tsauri, Al-Laits bin Sa’d, Al-Auza’i tentang dalil yang berbicara tentang sifat-sifat Allah. Lalu mereka semua memerintahkan untuk mengimaninya sebagaimana adanya, tanpa membagaimanakannya” (Syarhus Sunnah Al-Baghawi, hal 177/I).
Inilah aqidah salafi ahlussunnah wal jamaah, bahwa Allah Ta'ala memiliki sifat-sifat, bukan memilki jism atau anggota badan, tidak sebagaimana tuduhan orang yang saya SS ini dan sekawanannyai, bahwa salafi wahabi itu MUJASSIMAH (kelompok atau paham yang meyakini bahwa Allah Ta’ala memiliki jism (tubuh), jasmani, atau fisik) dan MUSYABBIHAH (kelompok atau paham yang menyamakan atau menyerupakan sifat-sifat Allah Ta'ala dengan sifat-sifat makhluk).
Wallahu a'lam
0 Komentar