Subscribe Us

header ads

Aqidah Sang Doktor Ketika Masih MA

Oleh : Buya Abdurrahman Thoyyib

Telah bergentayangan tulisan sang DR di medsos hari-hari ini. Dan ada sebagian ikhwah yang menanyakannya kepada penulis. Dan Ini tulisan sang DR tersebut :

"Ikut pemerintah dalam urusan ied dan puasa....emang itu bagian dari ketaatan kepada mereka?

Pemerintah tidak menyuruh beried pada hari apapun, bahkan membolehkan siapapun untuk beried hari apapun.

Wis to, ojo dikit dikit taat pemerintah, mas, resep penyakut itu banyak dan sesuai penyakitnya, masak semua masalah agama solusinya cuma TAAT PEMERINTAH.

Wis angel tenan kalau gitu cara mikirnya.

Pemerintah tuh mempersilahkan mau kapan saja ied anda....bagi pemerintah yang penting ojo ribut, ajo tawuran, ojo gegeran, ojo bikin susah pemerintah dengan merusak stabilitas keamanan.

Mau poso karep, ora yo karep, mau shalat yo terserah, ora sholat ya ora digagas.....ini faktanya ..... karena bagi pemerintah, urusan agama dan ibadah itu urusan masing masing.....jadi ojo dikit dikit taat pemerintah.....ora nyambung blas .....

Para ulama dalam menetapkan anjuran ikuti pemerintah itu salah satu dasarnya adalah dalam rangka menjaga persatuan ummat, agar tidak terpecah belah.....la anda malah menjadikan ketaatan kepada pemerintah untuk saling hujat dan berpecah belah....iki jelas salah resep.

Lo lo lo, kok gitu?

La iya to mas, monggo dengar dan simak baik baik pernyataan bapak mentri atau presiden atau gubernur atau pejabat lainnya, dalam hal ini .

La kalau penjelasan ulama' apa ya begitu juga?
He'eh (pakai logat solotigo), alias iya."

Sumber : klik disini

Tapi kalau kita baca tulisannya ketika masih bergelar MA yang berjudul "Antara Abduh dan Ba'abduh" hal.16-17 kok sangat amat kontradiksi ya?!

Dia berkata : Banyak ulama Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwasanya barangsiapa yang memberontak (keluar dari ketaatan) terhadap pemerintah yang dzolim maka ia adalah mubtadi' yang telah menyimpang dan keluar dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Kemudian dia menukil ucapan Ali bin Madini rahimahullahu "Semoga Allah memuliakan engkau. Sunnah yang lazim yang barangsiapa yang meninggalkan salah satu perkara darinya dan tidak berpendapat dengan sunnah tersebut atau tidak beriman dengannya maka dia bukanlah ahlussunnah tersebut. (Diantaranya) mendengar dan taat kepada para penguasa dan pemerintah kaum mukminin baik sholeh maupun jahat.

Kemudian dia juga menukil ucapan Ibnul Qayyim yang menyebutkan ucapan Imam Harb Al-Kirmani yang menukil jima' salaf sebagai berikut: "Ini adalah madzhab Ahlul 'ilmi, pengikut atsar, Ahlussunnah yang berpegang teguh dengan sunnah yang merupakan panutan (teladan) sejak zaman para sahabat nabi hingga hari ini. Dan aku telah mendapati orang-orang yang aku temui, yaitu para ulama dari penduduk Hijaz, Syam dan selain mereka berada di atas madzhab ini. Maka barang siapa yang menyelisihi sesuatu dari madzhab ini atau mencela madzhab ini atau mencela pengucapnya (yang berpendapat dengan madzhab ini), maka dia adalah mubtadi' yang keluar dari jamaah (ahlussunnah), telah melenceng dari manhaj ahlussunnah dan jalan kebenaran....(di antaranya) Demikian juga (shalat) jumat, SHALAT IED, haji, dijalankan bersama penguasa, meskipun mereka tidak baik".

Sungguh sangat bertentangan, amat kontradiksi, berbeda jauh, jelas mencla-mencle, plin-plan antara ketika masih MA dan sekarang dengan gelar DR nya.

Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu 'anhu berkata :

إِنَّ الضَّلاَلَةَ حَقَّ الضَّلاَلَةِ أَنْ تَعْرِفَ مَا كُنْتَ تُنْكِرُ وتُنْكِرَ مَا كُنْتَ تَعْرِفُ وإِيَّاكَ والتَّلَوُّن فِي دِيْنِ اللَّهِ فَإِنَّ دِيْنَ اللَّه وَاحِدٌ

Sesungguhnya kesesatan yang sebenarnya adalah engkau menganggap baik apa yang dulunya engkau ingkari dan engkau mengingkari apa yang dulu engkau anggap baik. Jauhkan dirimu dari mencla-mencle dalam urusan agama Allah (aqidah dan manhaj) karena agama Allah itu satu. (Al-Ibanah Al-Kubra hal. 505 oleh Ibnu Baththah)

Sebagai penutup saya ingin menukilkan ucapan sang DR ketika masih bergelar MA dalam bukunya "Kebangkitan Paham Abu Jahal" hal. 237: "Dalam menghadapi fenomena perpecahan ummat ini, kita diharuskan untuk senantiasa meniti jalan yang ditempuh oleh golongan selamat (Al Jamaah), dan menjauhi jalan-jalan yang ditempuh oleh golongan-golongan lain, karena jalan-jalan tersebut hanya akan mengantarkan ke dalam neraka. Hal ini sebagaimana diwasiatkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada sahabat Huzaifah bin Yaman radhiyallahu 'anhu :

تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Berpegang teguhlah engkau dengan jamaatul muslimin dan pemimpin (imam/khalifah) mereka. Akupun bertanya: Seandainya tidak ada jamaatul muslimin, juga tidak ada pemimpin (imam/khalifah)? Beliaupun menjawab: Tinggalkanlah seluruh kelompok-kelompok tersebut, walaupun engkau harus menggigit batang pepohonan, hingga datang ajalmu dan engkau dalan keadaan demikian itu. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Wasiat ini sangat bertentangan dengan metode yang didengung-dengungkan oleh sebagian orang yaitu metode yang dikenal dalam bahasa arab :

نَتَعَاوَنُ فِيْمَا اتَّفَقْنَا ويَعْذُرُ بَعْضُنَا بَعْضًا فِيْمَا اخْتَلَفْنَا

Kita saling bekerjasama dalam hal persamaan kita, dan saling toleransi dalam segala perbedaan kita."

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَیۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ

Wahai Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ

Wahai Dzat yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu.

Wallahu a'lam

Posting Komentar

0 Komentar