Oleh : Syaikh Al 'Allamah Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahu ta'ala
Pertanyaan :
ما حكم من شرب الماء في رمضان والمؤذن يؤذن؟
Bagaimana hukumnya, seorang orang yang masih minum (makan sahur) di bulan Ramadhan ketika muadzin sedang mengumandangkan adzan ?
Jawaban :
هذا ينظر إذا كان المؤذن لا يؤذن إلا إذا رأى الفجر وجب عليه أن يمسك من حين أن يسمع، لكن روى الإمام أحمد في مسنده بسند جيد:«أن الإناء إذا كان في يد الإنسان فلا يضعه حتى يقضي نهمته منه». وأما إذا كان المؤذن يؤذن على التقويم فالأمر في هذا واسع؛ لأن هؤلاء المؤذنين لو قلت لهم: تشهدون أن الفجر طالع؟ قالوا: لا نشهد، وتجدهم في المغرب يؤذنون على التوقيت. وأخبرني الثقات أنهم سمعوا المؤذنين يؤذنون والشمس لم تغرب؛ لأنهم لا يشاهدون الفجر ولا يشاهدون الشمس، وحسب علمنا الآن أن المؤذنين لا يؤذنون على الفجر إنما يؤذنون على ما بأيديهم من التقويم، فالأمر في هذا واسع. إذا شرب وهو يؤذن أو أكل شيئاً وهو يؤذن ليس به بأس.
Hal ini perlu dirinci :
Apabila (dia mengetahui bahwa) muadzin tidak mengumandangkan adzan kecuali jika telah melihat fajar; maka wajib atasnya untuk menahan (dari makan dan minum) saat dia mendengar adzan.
Akan tetapi Imam Ahmad meriwayatkan di dalam Musnadnya dengan sanad yang baik :
أَنَّ الإِنَاءَ إِذَا كَانَ فِيْ يَدِ الإِنْسَانِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِي نهمته مِنـه
"Apabila (salah seorang kalian mendengar adzan sementara) bejana itu masih berada di tangannya; maka jangan dia letakkan hingga dia selesaikan hajatnya darinya"
Namun jika (dia mengetahui) muadzin mengumandangkan adzan berdasarkan jadwal shalat abadi (yang sudah ditentukan dengan ilmu hisab); maka ini perkaranya luas (boleh dia teruskan makan sahurnya yang tersisa)
Karena kebanyakan dari muadzin, jika engkau bertanya kepada mereka : apakah kalian menyaksikan bahwa fajar telah terbit (ketika adzan) ? Mereka akan menjawab: kami tidak melihat !
Begitu juga di waktu Maghrib, mereka mengumandangkan adzan berdasarkan jadwal shalat abadi !!
Dan telah memberitahukan kepadaku orang-orang yang dapat dipercaya bahwa para muadzin mengumandangkan adzan sementara matahari belum terbenam; (hal ini terjadi) karena mereka tidak menyaksikan secara langsung terbitnya fajar, begitu juga tenggelamnya matahari.
Dan sebatas pengetahuan kami, di hari ini para muadzin tidak mengumandangkan adzan berdasarkan terbitnya fajar !! Akan tetapi mereka mengumandangkan adzan berdasarkan apa yang sudah di tentukan bagi mereka dari jadwal shalat abadi, maka ini perkaranya luas.
(Sehingga) jika dia masih minum atau makan sesuatu sementara adzan berkumandang, maka tidak mengapa (ia meneruskan makanan atau minumannya yang tersisa)
Pertanyaan :
يقضي احتياطاً يا شيخ.
Bagaimana kalau dia berhenti dari makanan dan minumannya untuk berhati hati (agar lebih selamat, jikalau fajar terbit) ?
Jawaban :
والله لا أدري. الاحتياط إنما يكون إذا كان له أصل.
Demi Allah, aku tidak mengetahui hal itu, karena sikap berhati-hati harus ada dasar hukumnya (dalilnya).
___
Silsilah liqaatil babil maftuh (pertemuan ke : 150)
Wallahu a'lam
0 Komentar