Oleh : Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah ta‘ala
Pertanyaan :
هُنَاكَ أُنَاسٌ يَقْرَءُونَ بِسُورَةِ السَّجْدَةِ فِي فَجْرِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَلَا يَسْجُدُونَ، فَمَا الْحُكْمُ فِي ذٰلِكَ؟
Sebagian orang membaca surat As-Sajdah pada shalat Subuh hari Jum’at, namun mereka tidak melakukan sujud tilawah. Bagaimana hukumnya?
Jawaban :
لَمْ يَثْبُتْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ سَجَدَ فِي سُورَةِ السَّجْدَةِ، وَقَدْ ذَكَرَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ فِي فَتْحِ الْبَارِي، قَالَ:
تَنْبِيهَانِ، وَنَذْكُرُ تَنْبِيهًا وَاحِدًا مِنْهُمَا لِأَنَّهُ الَّذِي يَعْنِينَا، قَالَ: لَمْ يَثْبُتْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ سَجَدَ فِي هٰذَا الْمَوْضِعِ، إِلَّا مَا رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ مِنْ حَدِيثِ عَلِيٍّ، وَفِي سَنَدِهِ ضَعْفٌ؛ يَعْنِي أَنَّهُ مِنْ طَرِيقِ لَيْثِ بْنِ أَبِي سُلَيْمٍ وَالْحَارِثِ الْأَعْوَرِ، فَلَيْثٌ ضَعِيفٌ، وَالْحَارِثُ كَذَّابٌ.
"Tidak terdapat riwayat yang shahih bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam melakukan sujud tilawah ketika membaca Surah As-Sajdah.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan dalam Fathul Bari dua peringatan (tanbih), dan kami sebutkan salah satunya karena inilah yang relevan dengan pembahasan ini.
Beliau berkata (secara makna):
“Tidak shahih bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam melakukan sujud pada ayat ini (dalam surah As-Sajdah), kecuali riwayat yang dibawakan oleh Imam Ath-Thabrani dari hadits Ali radhiyallahu ‘anhu. Namun dalam sanadnya terdapat kelemahan, karena melalui jalur Laits bin Abi Sulaim dan Al-Harits Al-A‘war. Laits adalah perawi yang lemah, sedangkan Al-Harits adalah seorang pendusta.”
وَمَا رَوَاهُ ابْنُ أَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ، وَفِي سَنَدِهِ مَنْ يُنْظَرُ فِي حَالِهِ.
Demikian pula riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Abi Dawud dari hadits Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, di dalam sanadnya terdapat seorang perawi perlu ditinjau tentang keadaannya.
فَإِذَا لَمْ يَسْجُدْ فَهُوَ أَوْلَى، وَإِنْ سَجَدَ فَالصَّلَاةُ صَحِيحَةٌ.
Apabila seseorang tidak melakukan sujud tilawah, maka hal itu lebih utama. Namun apabila ia melakukan sujud, maka shalatnya tetap sah.
وَالَّذِي ثَبَتَتْ فِيهِ الْأَدِلَّةُ فِي سُجُودِ التِّلَاوَةِ هِيَ سُورَةُ (ص) مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَسُورَةُ (النَّجْم) مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ، وَسُورَةُ (الِانْشِقَاق) مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَسُورَةُ (الْعَلَق) مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَيْضًا.
Adapun dalil-dalil shahih tentang sujud tilawah di dalam shalat, terdapat pada empat surah berikut :
1. Surah Shaad ayat 24 – dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
2. Surah An-Najm ayat 62 – dari hadits Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu.
3. Surah Al-Insyiqaq ayat 21 – dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
4. Surah Al-‘Alaq ayat 19 – dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
فَهٰذِهِ أَرْبَعُ سُوَرٍ، إِذَا صُلِّيَ بِالنَّاسِ بِهَا فَلَكَ أَنْ تَسْجُدَ وَلَكَ أَنْ لَا تَسْجُدَ، فَالسُّجُودُ لَيْسَ بِلَازِمٍ.
Keempat surat ini, apabila dibaca dalam shalat berjamaah, maka boleh melakukan sujud tilawah dan boleh pula tidak melakukannya, karena sujud tilawah hukumnya tidak wajib.
___
Qam’ul Mu’aanidi Wa Zajrul Haaqidi Wal Haasidi, jilid 2 hlm 485
Wallahu a'lam
0 Komentar