Subscribe Us

header ads

Ini Masalah Manhaj Dan Aqidah

Oleh : Buya Ali Musti Semjan Putra

Karena kalau kita baca kitab-kitab ulama salaf baik kitab Aqidah maupun kitab Fiqh, maka kita akan mendapati bahwa penetapan kapan berpuasa dan berlebaran, berhaji dan berjihad itu mengikuti keputusan pemerintah. Hal ini bertujuan agar menutup pintu kekacauan, menjaga persatuan kaum muslimin, dan mewujudkan tujuan syariat dalam merealisasikan jamaah serta kebersamaan. 

Masalah ini bukan sekedar soal melihat hilal awal Ramadhan atau awal Syawal, namun juga termasuk bagian dari siyasah syar’iyyah dalam mengatur dan menjaga kerukunan umat. Bahkan sekalipun terjadi kesalahan pada ijtihad Ulil Amri.

«هذه المسائل يُتحمَّل فيها الخطأ لأجل مصلحة الاجتماع»

“Dalam perkara seperti ini, kesalahan dapat ditoleransi demi menjaga kemaslahatan persatuan.”

Itulah mengapa para ulama mengisyaratkan kepada kita bahwa salah satu sifat tercela pada kaum khawarij adalah membuat perpecahan ditengah-tengah kaum muslimin. Benar, bahwa kita tidak boleh bermudah-mudahan dalam menuduh seseorang sebagai khawarij, namun kita harus menghindari sifat sifat tercela mereka.

Jangan meremehkan persoalan ini, apalagi terkesan membela orang-orang menyelisihinya dengan menjadikan hujjah menggunakan perbuatan sahabat Ibnu Abbas. Mas bro mungkin terluput bahwa hadits yang memerintahkan kita untuk berpuasa dan berhari raya bersama ulil amri serta jamaah kaum muslimin diriwayatkan oleh Ibnu Abbas sendiri.

Dan juga mas bro, perbuatan Ibnu Abbas tersebut tidak pernah dijadikan hujjah oleh para ulama untuk menyelisihi ulil amri dalam penetapan awal puasa, akan tetapi sebagai hujjah tentang adanya perbedaan Mathla’. Maka sangat tidak tepat dijadikan hujjah dalam masalah menyelisihi ulil amri yang sudah menentukan badan legal formal untuk masalah tersebut.

Mas bro, andaikan Ibnu Abbas berada di Syam atau mendapat informasi dari Muawiyah tentang awal Ramadhan, apakah Ibnu Abbas akan menyelisihi keputusan Muawiyah sebagai Ulil amri saat itu..?

Ni mas bro, sekilas perkataan para ulama tentang penjelasan diatas :

- Berkata al Hasan al Bashri :

"الصوم يوم يصوم الناس، والفطر يوم يفطر الناس"

“Puasa adalah pada hari manusia berpuasa, dan berbuka adalah pada hari manusia berbuka.”

- Berkata Ayyub as Sakhtiyani :

"إنما يُؤخذ في هذا بالجماعة"

“Sesungguhnya dalam hal ini (puasa dan ied) yang dijadikan pegangan adalah kebersamaan.”

- Berkata Imam Ahmad bin Hanbal :

"يصوم مع الإمام وجماعة المسلمين

“Berpuasalah bersama imam dan jamaah kaum Muslimin.”

- Berkata Ishaq bin Rahuyah :

"الصوم مع السلطان والجماعة"

"Puasa itu bersama penguasa dan jamaah.”

- Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah :

"ولهذا كان من أصول أهل السنة: اتباع الجماعة وترك الشذوذ... فإن يد الله مع الجماعة" 
وقال أيضًا: "لو رأى الهلال وحده ولم يقبل قوله، فإنه يفطر مع الناس"

“Termasuk prinsip Ahlus Sunnah adalah mengikuti jamaah dan meninggalkan sikap menyelisihi… karena tangan (pertolongan) Allah bersama jamaah.”

Beliau juga berkata :

“Jika seseorang melihat hilal sendirian, namun kesaksiannya tidak diterima, maka ia berbuka bersama manusia.”

- Ibnu Qayyim rahimahullah berkata :

"وفيه ردٌّ على من يقول: إن من علم دخول الشهر بنفسه صام وحده... والسنة مع الجماعة

“Dalam hal ini terdapat bantahan terhadap orang yang berpendapat bahwa siapa yang mengetahui masuknya bulan dengan sendirinya, ia boleh berpuasa sendiri… padahal sunnah itu bersama jamaah”

Wallahu a'lam

Posting Komentar

0 Komentar