Subscribe Us

header ads

Permasalahan Tata Cara Shalat Witir 3 Raka'at

Dari Abu Ayyub Al Anshary radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, 

الْوِتْرُ حَقٌّ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيُوتِرْ بِخَمْسٍ، وَمَنْ شَاءَ فَلْيُوتِرْ بِثَلَاثٍ، وَمَنْ شَاءَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ 

"Witir itu haq (disyariatkan). Maka siapa yang mau silahkan witir dengan 5 rakaat, siapa yang mau silahkan witir dengan 3 rakaat, dan siapa yang mau silahkan witir dengan 1 rakaat". (Hadits Riwayat Imam lbnu Majah (1190), lmam Abu Dawud (1422) dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Albani di dalam Shahih Sunan lbni Majah) 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ditanya,
 
Anda telah sebutkan terkait shalat witir, semoga Allah memberi anda taufiq. Saya berharap anda menjelaskan kepada kami tatacara shalat witir lima rakaat, sembilan rakaat, sebelas raka'at. Karena saya tidak tahu tata caranya?

Jawaban beliau rahimahullah, 

Menjalankan shalat witir dengan satu rakaat itu sudah jelas.

Kalau tiga raka'at ada dua cara, engkau boleh salam dua raka'at, lalu engkau lakukan raka'at yang ke tiga

Atau engkau lakukan tiga raka'at sekaligus dengan satu tasyahud, dan engkau tidak menjadikannya seperti shalat maghrib.

Kalau lima rakaat : Engkau bisa lakukan langsung lima rakaat, tidak duduk tasyahud kecuali di akhirnya.

Kalau tujuh rakaat : Engkau melakukannya tujuh rakaat sekaligus dan tidak duduk tasyahud kecuali di akhirnya.

Kalau sembilan rakaat : engkau duduk setelah rakaat ke delapan, dan engkau membaca tasyahud dan tidak salam, lalu engkau bangkit lagi melakukan rakaat ke sembilan, lalu salam.

Kalau sebelas rakaat : Engkau lakukan dua-dua rakaat dan engkau ganjilkan dengan satu rakaat. (Silsilah al-Liqaa Asy-Syahri 44) 

1. Mengerjakan 2 – 1 (dua raka’at salam, lalu satu raka’at salam)

Dari ‘Aisyah, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى فِى الْحُجْرَةِ وَأَنَا فِى الْبَيْتِ فَيَفْصِلُ بَيْنَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ بِتَسْلِيمٍ يُسْمِعُنَاهُ.

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat di dalam kamar ketika saya berada di rumah dan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memisah antara raka’at yang genap dengan yang witir (ganjil) dengan salam yang beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam perdengarkan kepada kami.” (Hadits Riwayat Ahmad 6: 83)

Dari Nafi’, ia berkata mengenai shalat witir dari Ibnu ‘Umar,

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يُسَلِّمُ بَيْنَ الرَّكْعَةِ وَالرَّكْعَتَيْنِ فِى الْوِتْرِ ، حَتَّى يَأْمُرَ بِبَعْضِ حَاجَتِهِ

“Ibnu ‘Umar biasa mengucapkan salam ketika satu rakaat dan dua rakaat saat witir sampai ia memerintah untuk sebagian hajatnya.” (Hadits Riwayat Bukhari no. 991).

2. Mengerjakan 3 raka’at sekaligus lalu salam.

Dari Abu Ayyub Al Anshori, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ

“Siapa yang suka lakukan witir tiga rakaat, maka lakukanlah.” (Hadits Riwayat Abu Daud no. 1422 dan An Nasai no. 1712. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari ‘Aisyah, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُوتِرُ بِثَلاَثٍ لاَ يَقْعُدُ إِلاَّ فِى آخِرِهِنَّ.

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasa berwitir tiga raka’at sekaligus, beliau tidak duduk (tasyahud) kecuali pada raka’at terakhir.” (Hadits Riwayat Al Baihaqi 3: 28)

3. Larangan mengerjakannya seperti shalat maghrib

Kalau ingin melakukan tiga raka’at langsung tidak boleh diserupakan dengan shalat Maghrib.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

لا توتروا بثلاث أوتروا بخمس أو بسبع ولا تشبهوا بصلاة المغرب

“Janganlah lakukan shalat witir yang tiga rakaat seperti shalat Maghrib. Namun berwitirlah dengan lima atau tujuh rakaat” (Hadits Riwayat Ibnu Hibban no. 2429, Al Hakim dalam Mustadroknya no. 1138 dan Al Baihaqi dalam Sunan Kubro no. 4593. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim).

Artinya, kalau caranya seperti shalat Maghrib berarti yang tiga rakaat memakai tasyahud awal di dalamnya. Itu yang tidak dibolehkan pada tiga rakaat.

Asy-Syaikh Ubaid bin Abdillah al-Jabiry hafizhahullah ditanya,

Barakallahufiikum wahai Syaikh Kami, soal yang keenam: Salah seorang ikhwan kita dari Universitas Islam (Madinah) sekarang di negeri (kami) mengajar di masjid. (Alhamdulillah). Dan Imam Masjid tersebut memintanya untuk mengimami shalat tarawih, kerana dirinya lebih berilmu tentang Al-Quran, dan agar manusia mengenalnya dan mengambil faedah darinya. Akan tetapi kebiasaan di masjid tersebut, mereka shalat witir setelah tarawih dengan sifat seperti shalat maghrib.

Apakah boleh baginya untuk shalat dengan sifat demikian? Mengingat kalau solat dengan mereka dengan sifat (tata cara) yang lain terkadang menyebabkan fitnah?

Beliau menjawab,

Yang sesuai sunnah dalam shalat witir itu dipisah. Maka shalat dua raka'at lalu salam, kemudian shalat satu raka'at lalu salam. Dan tidak boleh shalat witir seperti shalat maghrib, kerana telah shahih adanya larangan akan hal itu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Sesungguhnya mestinya ia mengajari manusia, maka jika Imam melihat kalau mereka itu tidak menerima pendapatnya, maka ia shalat bersama mereka apa yang mudah lalu dia pulang dan shalat di rumahnya.

Adapun meninggalkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kerana ingin mengikuti pendapat yang syadz (ganjil) atau yang menyelisihi yang rajih, maka itu keliru. Telah shahih dari Ibnu Masud radhiallahu 'anhu dan selain beliau -yang saya ketahui- kalau mereka shalat witir seperti shalat maghrib.

Akan tetapi mereka ini mendapatkan udzur, sesungguhnya larangan solat witir (dikerjakan) seperti solat maghrib belum sampai kepada mereka dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan dalam banyak perkara telah dimansukh (hapus) hukumnya dalam keadaan sebagian sahabat belum mengetahui mansukhnya. Demikian. Naam. (Sumber : klik disini)

Wallahu a'lam

Posting Komentar

0 Komentar