Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
يَمُنُّوْنَ عَلَيْكَ اَنْ اَسْلَمُوْا ۗ قُلْ لَّا تَمُنُّوْا عَلَيَّ اِسْلَا مَكُمْ ۚ بَلِ اللّٰهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ اَنْ هَدٰٮكُمْ لِلْاِ يْمَا نِ اِنْ كُنْـتُمْ صٰدِقِيْنَ
"Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, "Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar."" (Surah Al-Hujurat : 17)
Ada satu momen ketika Sa’ad mendapat pelajaran yang sangat berharga dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau pernah merasa lebih utama dibandingkan sahabat Nabi yang lain. Oleh karena itu, beliau juga bertanya kepada Nabi, apakah beliau berhak mendapat bagian harta rampasan perang lebih banyak dibandingkan sebagian sahabat yang lain.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan beliau agar jangan melupakan peran orang-orang lemah kaum muslimin. Meski mereka mungkin tidak terlihat kontribusinya secara nyata, bisa jadi pertolongan Allah turun dengan sebab shalat, doa, dan keikhlasan mereka.
Dalam hadits Shahih al-Bukhari, dinyatakan,
عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: رَأَى سَعْدٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ لَهُ فَضْلًا عَلَى مَنْ دُونَهُ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ
Dari Mush’ab bin Sa’ad, ia berkata, Sa’ad (bin Abi Waqqash) pernah menganggap diri beliau memiliki keutamaan dibandingkan sebagian sahabat lain yang di bawah beliau. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian bersabda, “Bukankah kalian mendapat pertolongan dan rezeki tidak lain dengan sebab orang-orang lemah di antara kalian?!” (Hadits Riwayat al-Bukhari)
Dalam riwayat an-Nasa’i, ada tambahan lafadz :
إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ
“Sesungguhnya Allah akan menolong umat ini dengan sebab orang-orang lemah di antara mereka; yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka.”
Al-Muhallab berkata,
أَرَادَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَلِكَ حَضَّ سَعْدٍ عَلَى التَّوَاضُعِ وَنَفْيِ الزَّهْوِ عَلَى غَيْرِهِ وَتَرْكِ احْتِقَارِ الْمُسْلِمِ فِي كُلِّ حَالَة
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bermaksud menganjurkan kepada Sa’ad untuk bersikap tawadhu’, tidak merasa takabbur terhadap yang lain, dan tidak meremehkan muslim dalam setiap keadaan.” (Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani [6/89])
Sudah sepantasnya kita jangan pernah paling merasa dalam segala hal, baik dalam kebaikan, perjuangan, dan lain sebagainya termasuk juga paling berjasa dalam kemajuan dakwah.
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi'i rahimahullah berkata,
فإنا نحمد الله سبحانه وتعالى نحمده على ما يسر من انتشار سنة رسول الله والفضل في هذا لله سبحانه وتعالى فليس ذلك بحولنا ولابقوتنا ولا بشجاعتنا ولا بفصاحتنا نطاقا ولابكثرة مالنا ولكن أمر أراده الله سبحانه وتعالى فكان ومع هذا الانتشار العجيب فنحمد الله سبحانه وتعالى على الهدوء الذي يسود أهل السنه والطمأنينة التي يسر الله سبحانه وتعالى
"Sesungguhnya kita memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala atas kemudahan yang diberikanNya berupa tersebarnya sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Keutamaan dalam hal ini adalah kembalinya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hal ini bukan karena upaya kita, bukan karena kekuatan kita, bukan karena keberanian kita, dan bukan pula karena kefasihan lisan-lisan kita, serta bukan karena banyaknya harta-harta kita. Namun, ini adalah sesuatu yang diinginkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Bersamaan dengan tesebarnya sunnah yang mengagumkan ini, kita patut memuji Allah subhanahu wa ta'ala atas ketenangan dan ketentraman yang Allah berikan dan mudahkan kepada ahlussunnah.
___
Sumber : klik disini
Wallahu'alam
0 Komentar