Mengubah Musibah Menjadi Anugerah

Bencana tak kenal waktu. Ketika terjadi bencana, maka seorang mukmin hendaknya jangan berputus asa dari rahmat Allah. Hindar mengeluh, mengumpat, memaki dan menyalahkan takdir. Karna dibalik bencana ada sesuatu yang tidak kita ketahui selama kita bersabar dalam menghadapinya. 

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

والصبر حبس النفس عن التسخط بالمقدور، وحبس اللسان عن الشكوى، وحبس الجوارح عن المعصية كاللطم وشق الثياب ونتف الشعر ونحوه.
فمدار الصبر على هذه الأركان الثلاثة، فإذا قام به العبد كما ينبغي انقلبت المحنة في حقه منحة، واستحالت البلية عطية، وصار المكروه محبوبًا.

“Inti sabar terletak pada 3 pilar :

1. Menahan hati dari kecewa dan marah terhadap takdir.
2. Menahan lisan dari mengeluh.
3. Menahan anggota tubuh dari perbuatan dosa seperti memukul wajah, merobek pakaian, mencabuti rambut, dan sejenisnya.

Jika hamba melaksanakan ketiga pilar ini sebagaimana mestinya, maka ujian baginya akan berubah menjadi kenikmatan, dan musibah akan berubah menjadi anugerah, sehingga hal yang sebelumnya dibenci menjadi sesuatu yang dicintai.” (Al-Wabil Ash-Shayyib hal.5)

Bencana di dunia yang menimpa manusia tidak lebih besar jika dibandingkan dengan bencana manusia dalam perkara agama. 

Berkata Hatim al-Asham rahimahullah :

مصيبة الدين أعظم من مصيبة الدنيا، ولقد ماتت لي بنت فعزاني أكثر من عشرة آلاف،وفاتتني صلاة الجماعة فلم يعزني أحد.

"Musibah dalam urusan agama lebih besar dibandingkan musibah dalam urusan dunia, sungguh ketika salah seorang anak perempuanku meninggal, lebih dari 10 ribu orang yang berta'ziyah menghibur diriku, namun anehnya ketika aku terluput dari shalat berjama'ah, tidak ada seorangpun yang menghibur diriku." (Miftahut Ta'ahhub lid Darir Qarar).

Seyogyanya, manusia terus berhusnuzon kepada takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hal apapun termasuk ketika ditimpa musibah. Karna sesungguhnya Allah tidak akan menimpakan bencana untuk seorang hamba diluar dari batasnya. 

Wallahu'alam

Posting Komentar

0 Komentar